Category Archives: Blog Area

BMC Malang Picnic to Jogja

BMC Malang Picnic to Jogja - At Indrayanti

BMC Malang Picnic to Jogja – At Indrayanti

Sabtu, 25 Oktober 2014, merupakan hari dimana squad BisMania Community Malang tengah menggelar piknik asik goes to kota istimewa Yogyakarta. Hampir sama seperti tahun kemarin, dimana kami, BMC Malang berwisata menuju Jogja untuk refreshing sejenak, menghilangkan penat dari aktivitas rutin. Dengan membawa armada handal asal kota Probolinggo, yakni Mila Gold Editon, Ventura Powered by Golden Dragon, menambah kepuasan kami selama perjalanan. Berikut detil rute perjalanan kami : Malang – Blitar – Kediri – Nganjuk – Caruban – Ngawi – Solo – JOGJA – Solo – Ngawi – Caruban – Nganjuk – Kertosono – Pare – Kandangan – Pujon – Batu – Malang.

Tak ingin banyak bercerita, berikut saja saya tampilkan kronologi wisata kami secara garis besar (dilihat dari jam pengambilan foto dari kamera) :

  • 19.30, berangkat dari Malang, tepatnya dari meeting point Terminal Arjosari Malang
  • 00.08, mulai terjebak macet setelah keluar dari Guyangan Nganjuk
  • 01.24, isi solar + break jajan di SPBU daerah Karangjati Ngawi
  • 04.20, berhenti tunaikan sholat shubuh di SPBU bypass Klaten
  • 06.06, masuk wilayah Gunung Kidul yang dihiasi dengan trek berkelok-kelok
  • 06.30, sarapan pagi di Griyo Wono, rumah makan ditengah ‘alas’ dan sawah mendekati wisata Pantai
  • 07.40, tiba di tujuan pertama, pantai Indrayanti
  • 10.45, meninggalkan pantai Indrayanti, ready for the next location
  • 13.08, tiba di RM. Ambarketawang, waktunya makan siang dan sholat dhuhur
  • 14.58, tiba di tujuan kedua sekaligus akhir, Malioboro Shooping Center
  • 18.40, meninggalkan Malioboro
  • 20.10, it’s time to have a dinner, tiba di RM Lestari, dekat Ambarukmo Plaza
  • 21.10, berhenti lagi di Djava, pusat oleh-oleh bakpia dan kuliner khas jogja lainnya.
  • 22.00, check out kota Jogja.. See you again gudeg city
  • 05.20, alhamdulillah, tiba di kota Malang lagi dengan selamat.

Demikian saya kira ulasan mengenai BMC Malang Picnic to Jogja. Saya selaku peserta mengucapkan terima kasih kepada panitia dan mas Doni, picnic yang sungguh handal dan memuaskan. Dan kami, seluruh squad BMC Malang ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Mas Syamsul Hidayat, Mas Zendy Hardianto, PO. Akas IV dan Mila Transport (Driver : Pak Herman, Co-Driver : Pak Haris), dan seluruh pihak yang tidak tersebut atas bantuannya baik secara langsung maupun tidak.

See you next journey | Salam Sejatinipun Seduluran
Saptanu Yuniar, BMC Malang

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Dan berikut adalah sepotong video rekaman perjalanan pulang. Handalnya mr. Herman hingga mampu mempersingkat perjalanan Jogja-Malang, monggo semoga berkenan :

Iklan

Empat BisMania Nyepur

Berdiri didalam gerbong ex KA Pasundan.

Berdiri didalam gerbong ex KA Pasundan.

Sebuah perjalanan singkat Malang-Tulungagung bersama KA Penataran/Dhoho, merupakan hal yang tak biasa bagi seorang bismania, hehe.. Bukan artinya selingkuh, 😀 hanya berhubung ada subsidi untuk kereta api ekonomi, tentu rugi untuk dilewatkan. Meski tujuan utama kami meluncur ke Tulungagung adalah untuk singgah ke rumah mas Tri Budiono. Membicarakan kesiapan Jambore Nasional yang nantinya Malang adalah tuan rumah. Tetap saja, hasrat touring dari seorang bismania tak bisa lepas begitu saja. Malah sempat terbesit dibenak kami untuk bablas Trenggalek, hehe.. Cukup mengesankan record perjalanan kami ber-3 sedulur BMC Malang plus 1 dulur BMC SuCi (Sukabumi-Cianjur) yang berdomisili di Malang. Tak ingin banyak bercerita, berikut saya tampilkan saja kronologi perjalanan kami ber-empat yang sempat membuat sebagian dulur BMC Malang yang lain ngiler ingin touring juga.. hahaha

*) Kronologi berdasarkan fakta, dilihat dari record jam dari foto-foto perjalanan. No Hoax.

  • 07.10, dimulai dari kami tiba di Stasiun Blimbing-Malang, tempat dimana kami memesan tiket kereta PP.
  • 07.34, masih 10 menit dari jam yang dijadwalkan tiket. Akan tetapi, tiba-tiba petugas menginfokan melalui pengeras suara bahwa KA Penataran akan segera datang. Kami berempat yang masih asyik jajan dan ngopi langsung kelabakan masuk stasiun.
  • 07.40, KA Penataran mulai menampakkan sinar lampunya dari utara. [Foto 1]
  • 07.44, KA berangkat.. alhamdulillah kami berempat mendapat seat yang berhadapan. [Foto 2]
  • 08.04, sampai di Stasiun Kota Baru, hampir 20 menit berhenti disini..
  • 08.27, Stasiun Kota Lama. Menunggu lagi.. karena silang dengan KA Malabar. [Foto 3]
  • 09.02, berhenti lagi di Stasiun Kepanjen.
  • 09.14, kembali berhenti di Stasiun Ngebruk.. Dan seterusnya.. Hampir semua stasiun antara Malang-Tulungagung si KA Penataran ini berhenti. Yaaa menurut istilah anak bismania, ini sepur lepo.. hehe.. 😀
  • 10.28, silang dengan another KA Penataran di Stasiun Talun. [Foto 4]
  • 10.55, Stasiun Blitar. Jenuh mulai melanda kami. Benar adanya, lepas Blitar, gerbong 5 yang kami tempati mulai berkurang isinya. Kami berempat langsung ‘mencar‘ kemana-mana nyari tempat pe-we. [Foto 5]
  • 11.44, tiba di Stasiun Tulungagung.
  • 12.10, usai makan siang diseberang stasiun, kami langsung cuss ke rumah mas Tri. Sambil melihat GPS, perkiraan awal tak jauh dari stasiun. Jalan kaki akhirnya kami pilih, daripada ngojek, tarifnya lebih malah daripada nyepur Malang-Tulungagung. hehe..
  • 13.00 lewat sedikit, Dengan setengah terbakar panasnya kota Tulungagung [maaf lebay], kami berhasil tiba di rumah mas Tri. Perkiraan awal bahwa jaraknya dekat perlu dikoreksi. [Foto 9]
  • 14.30, lupa waktu, rapat dan diskusi santai belum juga berakhir.
  • 14.40, mengingat sulitnya transport dari rumah mas Tri menuju Stasiun, akhirnya kami putuskan untuk pulang ke Malang naik Penataran lagi dari Stasiun Sumbergempol. Jam mepeet.. 😦 Tiket kereta kami menuju Malang berangkat pukul 15.25 dari Stasiun Tulungagung. Gagal ternyata rencana untuk cuci mata dengan bis-bis plat AG. Jangan tanya soal rencana bablas Trenggalek, sekedar main ke Terminal Tulungagung sepertinya ga nutut.
  • 14.56, setelah memanfaatkan tranportasi bus medium PO. Rukun Jaya, kami tiba di Stasiun Sumbergempol. Waah.. terlalu dini. Tak apalah, daripada telat. [Foto 10]
  • 15.20, KA Malabar Malang-Bandung permisi lewat di Sumbergempol. [Foto 11]
  • 15.58, calon kereta pengantar kami tiba di Sumbergempol. [Foto 12]
  • 16.00, masuk gerbong 2, sepi.. Duduklah kami berempat sesuka hati didalam gerbong ex KA Pasundan ini.
  • 16.40, tiba di Stasiun Blitar, penumpang dari luar langsung gemeruduk (bergerombol) masuk ke kereta, termasuk gerbong 2 yang kami tempati. Oleh karena bertiket ‘tanpa tempat duduk‘, akhirnya kami mengalah pada penumpang pemilik seat. Lho.. berarti berdiri? Iya lah.. [Foto 13 dan Foto 14]
  • 16.52, kembali berangkat bareng si KA Gajayana dari Sta. Blitar. Ehh.. tapi bukan drag lho.. KA Penataran ke timur, dan Gajayana arah barat menuju Jekate. [Foto 15]
  • 17.35, silang dengan KA Matarmaja di Stasiun Wlingi.
  • –     –     –     –      –      –     –     –    skiip     –     –     –     –     –     –     –
  • 19.15, tiba di Stasiun Kota Baru Malang + silang dengan another KA Penataran.
  • 19.25, alhamdulillah.. sampai juga di Stasiun Blimbing Malang. Dan dari stasiun ini pula, KA penataran kembali diserang puluhan calon penumpangnya..

Nah.. selesei sudah saya bercerita singkat mengenai perjalanan nyepur para bismania. Pengalaman yang cukup unforgetable. Mulai dari melawan rasa jenuh diatas kereta lepo, berjalan sekian kilometer dibawah panasnya kota Tulungagung, hingga berdiri didalam gerbong kereta sepanjang Blitar-Malang. Mohon maaf apabila penyajian kata pada cerita yang berantakan. Harap maklum, saya hanya sekedar bismania, bukan railfans. Jelas tidak paham mengenai seluk beluk dunia kereta api. Hanya ingin berbagi cerita, semoga berkenan.. 😉

Saptanu Yuniar, TPK006

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jam Ngepres… Kejar Kasih di Dalam Asri

Sabtu, 08 Februari 2014

Pagi hari di akhir pekan, suasana tenang terasa di terminal bus Bayuangga Probolinggo. Tak ada jam sibuk berlangsung disini. Bus-bus juga demikian tetap tertib pada jamnya, sama sekali tidak ada kesan keburu yang biasa saya lihat. Kontras tentu apabila dibandingkan suasana hati saya pagi itu. Duduk gelisah menunggu patas Surabaya yang tak datang-datang.

06.47, sedikit menyesal mengapa tadi tak langsung ikut Akas NR Ekonomi AC setelah turun dari Tjipto ATB, pengantar saya dari Leces. Inginnya menunggu Patas agar lebih cepat sampai Surabaya. Tapi ini sudah lebih dari 30 menit saya terdiam di bangku ruang tunggu. Keputusan awal meleset, patas yang ditunggu belum juga datang.

07.12, sudah 5 bus ekonomi jurusan Surabaya saya abaikan. Sementara kaki semakin kaku untuk memilih arah melangkah.

10 menit kemudian,

“Yang Surabaya nunggu Patas.. Patas Surabaya dibelakang…”, saya toleh dan segera saya lari kearah suara itu. Patas Akas Asri ambil parkir dibelakang Patas AG Malang. Masuk kabin saya tak mau ambil pusing dengan hot seat lagi, yang penting dapat seat.

Setelah dapat, mulai saya cari info mengambil ancang-ancang apa yang akan jadi tunggangan selanjutnya agar bisa sampai Jogja maksimal sebelum maghrib. Juga demikian untuk tunggangan dari Jogja, saya langsung hubungi mas Alex untuk mencari tahu Akas Asri start jogja sore nanti angkatan siapa saja. Siapa tahu ada Pak Joko, hehe.. Karena saya ingin menjajal bis yang dikemudikannya lagi. [Catatan Perjalanan, klik..]

07.30, Patas Akas Asri berangkat. Terlalu siang, memang salah dari awal. Ah sudahlah, yang berlalu biarlah berlalu, tak mau lagi saya mengingatnya. Biar saja waktu nanti yang menjawab. Toh sekarang sudah nemu patas.

Keluar terminal Bayuangga, pedal gas cukup dalam diinjak oleh driver. Sepertinya beliau suka main rpm tinggi, mercedes benz OH lawas terdengar berseru keras dan body bis bergetar tiap pindah gigi 1-2 dan 2-3. Sedikit lega setelah saya lihat gaya menyetirnya, yang sepertinya tak suka santai. Body Setra ala Dafi Putra dibuat bergoyang sehingga mengeluarkan bunyi khas. “Nyiit.. nyiitt.. nyiitt..” seperti suara tikus yang kejepit saat bis pindah jalur mendahului kendaraan didepannya.

Belum lama menjajaki aspal pantura, tiba-tiba hembusan AC yang awalnya kencang dan dingin, berhenti. Menyadari hal tersebut, driver memperlambat dan menghentikan bisnya didepan pasar Bayeman, masih kabupaten Probolinggo. Aduh.. AC trouble. Kedua kru langsung bangkit dan turun bis untuk segera membuka kap mesin dibelakang. Cemas kembali mendatangi saya, kondisi terburuk ini pasti dioper ke Patas belakangnya. Menunggu lagi berarti?? Pliss cepatlah datang patas apapun yang dibelakang.

Patas Akas Asri

Patas Akas Asri Trouble AC

Dugaan benar, kru sudah kwalahan dengan keadaan darurat ini. AC yang macet tak mau dihidupkan lagi dengan cara instan. Perlu dibawa pulang ke garasi untuk membetulkannya. Semua penumpang turun. Rencana akan dipindahkursikan ke Patas selanjutnya. Alhamdulillah… ternyata tak jauh, next Patas Akas Asri dari timur sudah tampak mengedipkan sein kirinya. Segera saya ambil posisi mapan memperkirakan dimana dia akan berhenti agar bisa menjadi orang pertama yang masuk. Paasss… saya masuk melalui pintu depan.

Semua penumpang berhasil masuk, namun tak semua mendapat tempat duduk. Beberapa diantara mereka ada yang ‘nggrundel’ tak mau berdiri karena sudah bayar penuh. Kru yang juga kebingungan mencoba menenangkan keadaan. Kursi ekstra mau tidak mau harus mereka pilih. Sementara bis sudah dijalankan  dari tadi karena tak mau lebih mengecewakan penumpang lagi. Kondektur Patas pengoper juga ikut diatas kabin. Menyelesaikan urusan dengan kondektur penerima sambil ikut membantu mengatur penumpang agar tetap mendapat servis.

09.00, sudah lepas Pasuruan. Bis daritadi berjalan dengan konsisten, alhamdulillah tak ada hambatan macet ataupun antrian kendaraan yang tampak hingga sejauh ini.

Tak lagi saya perhatikan tingkah Patas ini dijalan atau bagaimana dia melaju, pokok yang penting sampai Surabaya. Pikiran tak henti-hentinya saya paksa mencari cara agar bisa sampai Jogja secepat mungkin. Info jadwal keberangakatan Sumber Group dan Eka yang ada di Facebook saya ubek-ubek. Enaknya naik apa nanti. Sumber Semarangan turun Solo lalu oper atau sekalian naik EKA? Yaa.. memang tinggal mereka yang bisa saya andalkan karena lebih cepat via Karangjati.

Putar ide lagi,

Eh wan, kira-kira keberatan gak kamu kalo pulang dari Jogjanya diperlambat, maghrib mungkin”, sms saya kirim pada Awan, teman yang ada di Jogja.

Oh iya, belum saya ceritakan. Tujuan saya ke Jogja kali ini adalah untuk memberi sedikit surprise pada kekasih yang nanti sore akan pulang ke Leces. Sebelumnya saya berencana ingin menjemputnya, namun dia tak mau. Hehe.. Saya yang mungkin keras kepala. Bermodal informasi dari Awan, teman yang nanti pulang bersamanya, saya berusaha untuk tetap sekedar menemuinya.

Kembali ke perjalanan, cukup lama saya tunggu balasan sms dari Awan.

09.45, keluar tol hampir sampai terminal Purabaya, sms masuk.

Keberatan.. kalau malem ga ada bisnya..”,

Segera saya balas, “Iya sih, kalau malem nanti khawatir Akas ga ada. Oke dah..”.

Putar ide lagi…

Kalaupun nanti gagal sampai Jogja, paling tidak bisa sampai Solo lah. Rencana awal berjudul ingin menjemput dengan terpaksa harus berganti ‘pokok bisa ketemu’. Daripada memaksa diri sampai Jogja tapi gagal bertemu. Ya sudah, Solo I’m coming…!!

Meski begitu, saya tak mau berleyeh-leyeh asal pilih bis. Karena Solo adalah last pos dimana saya bisa nyegat Akas Asri tujuan Jember-Banyuwangi yang nanti menjadi tumpangan dia pulang. Pukul 09.55, turun dari Patas Akas Asri di terminal kedatangan Purabaya.

Bergegas saya menuju shelter keberangkatan si EKA Cepat. Mengingat saya lihat jadwal Sugeng Rahayu Semarang-an baru ada pukul 10.15, selisih sedikit tapi cukup sudah toleransi. Eka Cepat tujuan akhir Magelang berbody Travego Morodadi Prima sedang parkir. S 7355 US, semoga kau bisa mengantarku Cepat menuju Tirtonadi.

Tepat pukul 10.00, Eka berangkat..

Saya coba tenangkan diri yang dari tadi dikelilingi rasa cemas. Menikmati perjalanan, merasakan nyamannya bus patas dengan pelayanan executive.

Daerah Krian, seperti biasa, lalu lintas sering tersendat disini. Padat merayap karena terlalu banyaknya volume kendaraan siang itu. Tak mau berlama-lama, Eka ambil bahu jalan bermain becek-becek diatas tanah berlumpur. Dipimpin Sugeng Rahayu 7504 didepan, kedua armada ini tampak bersusah payah mencari jalan yang enak. Yaa jelas ga enak jalannya, lha wong memang bukan untuk dilalui, hahaha.. lubang dimana-dimana.

Didalam Eka Cepat 7355

Didalam Eka Cepat 7355

11.25, hampir masuk Mojoagung.

Eka 7355 cukup ngejoss dalam berlari. Namun saya kurang suka dengan cara driver tiap pindah gigi, perlu diperhalus mengingat ini adalah Patas dimana penumpang butuh kenyamanan. Terlalu cepat melepas pedal kopling sehingga bis terasa cukup nyentak/lompat. Pun berhasil membuat saya pribadi pusing, bisa jadi faktor kebanyakan mikir juga. Akhirnya saya mencoba pejamkan mata sejenak.

Bangun, baru disekitar perak. Tiba-tiba nongol dari kanan Sugeng Rahayu 7504, dia berhasil mengasapi Eka. Lhoo.. tapi kok dia lagi yang datang? Bukankah tadi sudah didepan saat di Krian? Emmm.. kalau dipikir lagi, benar Eka bisa kembali didepan karena tak banyak berhenti di terminal.

12.20, Braan, Kertosono. Terhenti oleh pengaman perjalanan kereta api. Eka menunggu antrian. Diwaktu yang bersamaan, Patas Madjoe Group diikuti Jaya non AC ambil siasat antri di jalur berlawanan berharap bisa lepas dari antrian lebih dulu. Kembali saya lelapkan diri dalam tidur agar nanti sampai Solo tak terlalu capek.

13.40, Eka sudah menjajaki jalur KarangJati. Performa RK8 bisa ditunjukan disini, jalanan yang lebih sering sepi enak untuk berlari lebih dan lebih kencang lagi. Sementara wiper kaca depan juga bergerak memperjelas pandangan driver. Yaa.. hujan sedang turun disini.

Masuk ring-road Ngawi, Eka masih berlari kencang sekitar 90-100 km/jam. Senang saya dibuatnya, ayoo pak injak yang dalem lagi gasnya, hehe.. Biar cepat sampai Solo.

Eka Cepat 7355 at RM. Duta

Eka Cepat 7355 at RM. Duta

14.20, RM. Duta didepan. Waktunya istirahat dan makan siang sebentar.

Sekitar 30 menit berhenti, Alhamdulillah perut sudah terisi. Waktunya lanjut perjalanan.

Selamat Datang di Provinsi Jawa Tengah. Kembali saya hubungi Awan, memastikan kalau saya hanya bisa ikut dari Solo karena jam sudah pasti ga nutut.

“Kamu dari Solo? Ini lagi digarasi, bisnya belum berangkat..”

Sekarang sudah pukul 15.46, berarti ini bis pegangan pak Popong. Sayang sekali pak Joko sedang libur. Tak apa lah, minimal dapat bis terbaru di jalur Yogyakarta-Banyuwangi.

“Iya aku ikut dari Solo. Eh, bisnya tinggi ga wan? Yang ada tulisan Wi-Fi bukan?”

“Yups.. kok tau?”, balas dia keheranan setelah saya tebak ciri-ciri bisnya.

16.55, Eka masuk terminal Tirtonadi Solo. Alhamdulillah sudah berhasil mencapai Solo dengan selamat dan masih dalam waktu yang aman. Karena si Akas Asri yang dia tunggangi bersama Awan juga baru berangkat dari Terminal Giwangan – Jogja. Masih ada waktu untuk mandi dan istirahat sambil menunggu.

Usai mandi, saya langsung duduk di bangku tunggu dekat keberangkatan Jember-Banyuwangi. Yang saat itu jam parkir sedang diisi Akas Asri ATB Jetbus dengan sassis RK-t.

18.40, langit sudah gelap. Sementara shelter keberangkatan Jember sudah kosong sepeninggal si AA RK-t. Bis yang saya tunggu-tunggu belum juga datang.

19.26, suara klakson mercy elektrik terdengar. Mana dia?? Sayang sekali sosoknya tertutup Eka Jupiter Li yang sedang menunggu penumpangnya tertinggal di Toilet. Dan kemudian terlihat nongol kepalanya, putih… Asri? Ya benar! Ini dia yang saya tunggu.

Saya masuk dari pintu belakang agar tidak cepat ketahuan. Sambil mengendap-ngendap ditengah pedagang asongan diatas kabin, saya dekati dia yang sedang duduk diam di seat nomer 3 dari depan.

“Heii.. geseran dong..”, saya mulai menyapa seraya tersenyum padanya.

Mungkin kaget dengan kedatangan saya, tak banyak kata yang dia keluarkan. Hanya bisa senyum dengan wajah yang masih diselimuti rasa tak percaya.

Kalimat pertama, “Speechless lho aku sampe sekarang..” hehehe.. maaf ya dear tak kubilang kedatanganku untuk menemuimu.

Akhirnya berhasil rencana ini. Yaa meski tidak bisa sampai Jogja, Solo pun tercapai. Alhamdulillah.. saya rebahkan diri diatas seat aldilla berdampingan dengannya, kekasih hati.

Untuk perjalanan pulang, tak banyak yang bisa diceritakan mengingat posisi duduk saya kurang leluasa untuk menghafal keadaan. Ditambah dengan ada dia disamping, wah sudah tentu tak bisa lagi fokus kedepan, 😀 .. Mungkin hanya intinya yang bisa saya bagi dengan anda para pembaca.

Akas Asri ATB MB OH 1526 Air Suspension Yogyakarta-Banyuwangi

Akas Asri ATB MB OH 1526 Yogyakarta-Banyuwangi

For all, Akas Asri ATB dengan sassis Mercedes Benz OH 1526 ini recomended untuk anda yang mencari kenyamanan. Pak Popong cukup halus dalam membawa bis barunya ini. Hal yang jarang ada pada sassis 1526. Samar tiap pindah gigi, beliau memang ‘orang lama’ di Akas Asri, wajar beliau sudah senior.

Start Tirtonadi – Solo 19.40.

Break di SPBU Sedarum – Pasuruan 02.14.

Turun di Leces pukul 03.20 dini hari.

Akhir kata, saya ucap syukur dan terima kasih kepada Allah SWT, kedua orang tua, Awan, mas Alex, kru Tjipto ATB, 2 Patas Akas Asri, Eka 7355, Pak Popong Akas Asri 1526, dan seluruh pihak yang sudah membantu baik langsung maupun tidak.

Sampai ketemu di kejutan dan perjalanan berikutnya..

Saptanu Yuniar – TPK006.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.