Nafas Tua di Tangan Profesional

Rabu, 8 Januari 2014

Usai tunaikan sholat maghrib, dari masjid terminal Tawang Alun. Saya coba melemaskan badan dengan mengitari areal keberangkatan bis.

“Halo.. mas, dimana?”, saya telfon mas Alex, dulur BMC Tapal Kuda.

Mila Sejahtera Predator dan Rosalia Indah

Mila Sejahtera Predator dan Rosalia Indah

“Jogjaan jogjaan..”, dia memberi kode kalau sedang didekat keberangkatan bis menuju Jogja. Tak sulit untuk bertemu, sesaat akhirnya kami saling pandang dari kejauhan yang sama-sama pegang hp ditelinga. Sambil saling lempar senyum, saya menghampirinya yang ternyata sedang ditemani dulur Tapal Kuda lainnya, Iqbal dan Cahya.

“Eh, ternyata pak Joko malem ini perpal lagi..”, celetuk mas Alex sambil menepuk pundak saya.

“Ha? Walaah.. Kok perpal lagi?”, balas saya dengan raut muka yang tiba-tiba berubah mulai kecewa.

“Hahaha.. Engga kok becanda, tapi aku ga bisa ikut ya malem ini, besok mendadak ada seminar niih..”, balasnya sambil menunjukkan zoom file pdf di BB-nya yang berisi deadline tanggal besok.

18.55, dulur-dulur Tapal Kuda satu-persatu datang merapat semakin menghangatkan suasana. Entah ini kesengajaan atau memang sedang ada cangkruk rutin di Tawang Alun. Bersyukur saya dalam hati mereka datang, mengingat kehadiran saya di Jember ini tak memberi kabar sebelumnya, hehehe..

Pindah lokasi, dari samping tempat Mila Sejahtera Predator parkir malam itu, kami sedikit bergeser ke selatan. Sebuah warung ber-cat biru, yang sudah menjadi ‘perpal-an’ langganan semua member BMC Tapal Kuda tiap cangkruk di Tawang Alun.

Malam semakin larut, suasana terminal juga demikian makin mendiam. Eiitss.. tunggu dulu, hal ini tidak berlaku untuk kru bis Damri yang malam itu ketimpaan banyak penumpang langganan menuju Madura. Satu.. Dua… Tiga.. Empat bis damri yang rata-rata bersassis mercy Prima satu-persatu bergiliran mengisi keberangkatan jalur 3. Tentu kami memperhatikan hal ini, beberapa ada yang bertestimoni mengatakan salah satu armada damri tersebut joss sopiran-nya. Menarik, saya hanya menyimak.

20.40, pindah tempat semula, parkir jogjaan.

10 menit berlalu serasa sebentar, bis yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang mengisi jam parkir.

Asri ATB RK-turbo at Tawang Alun

Asri ATB RK-turbo at Tawang Alun

“Pak Joko.. Pak Joko..”, salah satu dari kami menegaskan nama pengemudi bis tersebut adalah benar adanya Pak Joko.

Sumringah, senang, penasaran, tak sabar, semua bercampur sesaat saya tatap Akas Asri AC Ekonomi tersebut. Berbaju travego ala Dafi Putra, si Asri tampak cantik ditambah sorot biru lampu marcopolo. Namun, sebenarnya bukan bisnya yang membuat saya rela datang jauh-jauh dari Malang. Tapi, banyaknya ‘komporan’ dari dulur-dulur, terutama mas Alex yang begitu mengandalkan gaya menyetir pak Joko. Dan malam ini, alhamdulillah top target ini akan segera saya coret dari list.

“Solo Jogja Solo Jogja.. Berangkat.. Berangkat..”

Tanpa basa-basi lagi, saya masuk kabin Akas Asri yang sudah banyak berisi penumpang dari Banyuwangi dan Jember ke timur. Full seat, saya ambil kursi paling depan ditengah-tengah sopir dan kernet. Saya pribadi menyebutnya kursi TL, karena biasa dipakai tour leader duduk saat pariwisata.

21.08, Asri Joko berangkat.. Saya lambaikan tangan dari dalam kabin. Maturnuwun dulur-dulur sudah mau nyambut sekaligus menemani hingga akhirnya saya berangkat..

Tarikan gas pertama mengawali keberangkatan, sekaligus mulai meyakinkan omongan yang selama ini saya dengar. Tegas dan kuat. Keluar terminal, dengan putaran kemudi yang sempurna menambah kagum saya padanya. RPM tetap konstan tak turun segaris pun. Saya rasakan caranya memindahkan gigi, benar-benar halus dan samar.

Masuk jalan raya, kecepatan mulai ditambah. Namun sayang sekali jarum speedometernya tetap menunjuk angka 0, sudah tak fungsi. Asri mulai keluar jalur, beberapa motor  dari arah lawan diminggirkan.

“Wass.. song.. preii..”, seru santai kernet samping kiri saya mengiringi pak Joko yang tampak tenang menjauhkan body bisnya dari banyak motor didepannya.

Lepas Tanggul, jalan lurus dan kurang penerangan membuat lampu jauh dinyalakan. Kecepatan dibuat konstan oleh pak Joko, tak ada kesan terburu. Rombongan kendaraan besar mulai terlihat beringingan didepan. Lampu jauh dimatikan, sein kanan berkedip cepat, sentuhan suara klakson menyusul berbunyi sebagai ganti kata permisi. “Kreess..”, belum sampai truk ketiga, sorot lampu kendaraan muncul dari arah berlawanan. Gas tetap ditambah. Jarak semakin dekat, sein kiri berkedip. Kendaraan yang mulai saya kenali adalah Avanza itu mulai menurunkan kecepatannya. Asri masuk ke jalurnya lagi. Avanza berlalu, putaran kemudi kembali mengeluarkan Asri ke kanan. Seolah kurang puas tinggal 1 mangsa didepan. Total 4 kendaraanpun terlewat.

“Fyuuh…”, tak sadar saya mengelus dada seraya menggelengkan kepala.

Sekitar pukul 10, pertigaan Wonorejo. Aspal mulai basah, akankah arah utara nanti Hujan? Entahlah..

Ingin rasanya saya memulai obrolan dengan pak Joko, mengakrabkan diri. Tak tahu saya dibuat sungkan olehnya. Menurut mas Alex, beliau memang tak suka banyak cakap. Cocok dengan cara mengemudinya, banter dan halus alias handal.

“Ah sudahlah, kapan-kapan kalau ikut lagi aja..”, ucap saya dalam hati sambil memantapkan posisi duduk. Tak mau juga saya memecah konsentrasinya dijalan. Dan pilihan ini mungkin benar, Grand Livina didepan mulai dirasa menjengkelkan semenjak bertemu dengannya sesaat bis keluar terminal Lumajang. Ragu tiap mendahului, otomatis ini memperlambat Asri yang dibelakangnya ngebet ingin lari. Bosan dengan tingkahnya, Asri memperlambat lajunya, ambil sekian jarak. Sesaat Livina ngeblong, dipacu sekian kencanglah Hino RK lawas ini.

“Asss…”, suara kernet membuat saya agak kaget. Lampu jauh dimainkan, Livina benar-benar ditempel. Cesss cesss cesss.. suara patah-patah rem mengatur jarak antar keduanya. Tipis sekali saya lihat. Livina minggir, Asri tak pindah sedikitpun. Teet… klakson mengakhiri perhelatan tersebut. Asri terus melaju menyisir kilometer didepan dengan tegas.

Kedungjajang, Harapan Baru jurusan Trenggalek didekati. Keduanya mulai beriringan keluar masuk jalur. Tapi tak lama, Harapan Baru juga terlewati. Aksi keluar masuk jalur terus dilakukan. Sein kanan kiri teratur diberikan.

Kagum saya dengan cara pak Joko membawa bisnya. Sassis Hino RK turbo lawas, akhir produksi tahun 2004. Kondisi kabin full seat ditambah beban AC pada mesin. Untuk ukuran normal, seharusnya bis ini tak mampu lari segesit ini. Rasa penasaran semakin besar, bagaimana nanti dijalur setelah Mojokerto, trek dimana ATB Sumber dan Mira yang juga terkenal larinya di jalur Surabaya-Jogja. We’ll see…

22.44, Malasan. Damri ATB jurusan Madura juga kesusul. Didekati dan ngikut dibelakangnya. Mercy Prima miliknya tampak mengepulkan asap yang lumayan saat bis digenjot mencoba lari. Namun tidak bisa menjauhkannya dari pandangan Asri.

Masuk wilayah Leces, kampung halaman saya, Damri dapat poin membuatnya tertinggal dibelakang.

Pertigaan Jorongan. “Luna Maya… Mangkane ga onok wong..”, pak Joko mengajak bicara si kernet. Luna Maya?? Siapa yang dimaksud? Bis Jogja juga? Saya condongkan badan kedepan, mencoba cari tahu bis yang dimaksud. Sesaat pak joko juga menaikkan irama permainan rpm untuk mengejar si “Luna Maya”. Batas Kota Probolinggo, misteri kata-kata tersebut akhirnya ketahuan. Dialah Mila Sejahtera AC yang berbody selendang Laksana, juga jurusan Jogja. Gambar liverynya sih Angeline Jolie. Luna Maya nya mana?? Hehe..  Entahlah, mungkin ada tulisan di bodynya, atau sekedar julukan subjektif.

Sadar akan kedatangan Asri, Mila seperti ketar ketir ingin lari. Suara mesin Hino AK yang dikeluarkan pipa gas pembuangan lumayan keras. Dengan mendorong Kurnia Jaya ex Ramayana didepannya, Mila tampak lari terbirit-birit. Asri mengikuti, namun belum berhasil menempel dibelakangnya, selalu ada space. Perempatan Wonoasih, akhirnya ketiga armada ini berhasil gandeng. Layaknya kereta, Kurnia Jaya Akas III menjadi lokomotif didepan. Seraya menjaga jarak dengan Mila, pak Joko ambil hp di dashboardnya. Tak begitu jelas saya dengar apa yang dibicarakannya di telfon. Yang jelas beliau cari info penumpang yang ada di bayuangga.

Sebuah pilihan harus ditentukan, sudahlah penumpang bayuangga diberikan kepada Mila. Di jalan masih banyak. Asri meninggalkan iringan, ambil kanan masuk jalan Brantas. Jalan masuk karoseri dimana body bis ini dibuat.

Pertigaan ketapang/biasa disebut kopian. Asri datang dari timur, tak tampak sosok Mila. Masih di Bayuangga mungkin. Perhelatan diatas aspal mulai ditunjukan kembali, kendaraan besar kecil didepan bertahap dilalui. Semakin seru saat ada bis yang ngekor dibokong Asri. Saya tengok dari spion kanan, bis tersebut banter juga, selalu nempel kadang ngintip kekanan. Tulisan putih Madura bersinar dikaca depannya membuat saya penasaran. Ini bis apa? Jurusan Madura, masa’ Damri tadi? Kan sudah diblong di Leces. Pak Joko juga menyadari kedatangannya, skill sebenarnya mulai dikeluarkan. RK-t dipacu sedemikian rupa, menari kanan kiri dicelah-celah karnaval truk. Lepas jembatan lebar Bayeman, bis misteri tersebut mulai maju ambil kanan saat Asri menyisir bahu jalan. “Owalaah.. RG Akas IV”,  dengan tulisan KABUT SEMERU dikaca belakangnya. Sadar saya dalam hati. Ini kalau diumpamakan, “mek kalah montor” (hanya kalah mesin). Hino RG disandingkan dengan Hino RK-t, masalah tarikan jelas lebih kuat RG. Eitss.. belum berakhir lo pertarungannnya. Tak lama RG memimpin, poin membuatnya terhenti. Asri lanjut didepan.

Tongas, belum terlihat si RG.

Batas Pasuruan, Nguling, belum juga terlihat saya cari dari spion.

Pasar Nguling, muncullah si RG dengan permainan lampu jauhnya di kanan jalan. Lalin padat, dia memaksa masuk dibelakang Asri karena depan sudah kres truk. POM sedarum didepan, sayang sekali, pertarungan RG dan RK-t harus berakhir terlalu segera. Pak Joko melambaikan tangan memberi jalan pada si RG sambil tertawa kecil. Sein kanan berkedip, Asri masuk POM miliknya pribadi.

Akas Asri ATB di POM Sedarum

Akas Asri ATB di POM Sedarum

15 menit terdiam hanya untuk isi solar, “Yoo.. Solo Jogja berangkat..”, teriak kernet memberi komando agar penumpang yang sedang istirahat dan ke toilet segera kembali.

23.40, kota Pasuruan. Terlihat Patas Ladju Ventura merah jurusan Surabaya sedang asyik minum solar. Pier, 2 kendaraan didepan terlihat sedang menyalakan lampu hazard. Asri mendekat. Ternyata rombongan militer TNI. Truk dan diikuti jeep dibelakangnya. Ada yang menjengkelkan disini , kedua mobil aparat yang melaju tak terlalu kencang itu tampak tak memberi jalan. Terus saja jalan digaris tengah. Ini maksudnya apa?

“Delok’en.. ra minggir..”, kernet sedikit ngomel. “Kandani kok..”, balas pak Joko. Hingga lepas Bangil masih saja Asri tak diberi jalan. Entah maksud dari kelakuannya apa.

Alhamdulillah, sebelum masuk bunder gempol, Asri sudah terlepas dari rombongan aparat tadi yang terjepit dibahu jalan. Hehe.. Pertigaan kejapanan, Asri ambil kiri. RPM kembali teratur, tempo mesin kembali meningkat. Jalanan sepi antara Japanan sampai terminal Mojokerto. Hanya butuh waktu kurang dari 20 menit.

Terminal Mojokerto, 1 penumpang turun.

Lewat tengah malam, ada lagi yang turun di Peterongan Jombang. Eka Tourismo mendahului Asri yang sedang berhenti. Rasa penasaran kian meningkat. Akankah RK8 bisa ditandingi nantinya? Pertigaan mendekati terminal Jombang, Eka yang bernopol S 7523 US itu memperlambat lajunya sesaat lampu merah berganti hijau. Asri menyusul pas dibelakangnya. Jombang lama, 1 penumpang Asri turun. Eka kembali menjauh, tapi belum hilang. Rombongan petikemas membuatnya terjepit. Setelah sama-sama terbebas, Eka dengan sassis RK8 mulai memimpin jauh didepan, Asri tetap ikut dibelakang.

Stasiun Jombang, 1 penumpang lagi turun, Eka juga mendapati poin disana, tapi terlalu lama. Asri ambil start terlebih dahulu. Skill sebenarnya kembali ditunjukan. Sein kanan kiri tetap teratur dimainkan, ini yang saya suka. Eka kembali mendekat, terlihat dari spion. Jalanan sepi, bebas dari iring2an truk, Eka semakin greget menempel Asri, menengok tak henti-hentinya dengan lampu jauhnya yang kedap kedip. Jalur lurus, Asri harus mengakui umurnya yang sudah uzur, dibandingkan RK8 keluaran tahun 2013 tentu jauh. Eka berhasil mendahului .

Perak, di jembatan entah apa namanya, dimana ini merupakan jalur mati. Tanjakan lalu turunan yang tentu kendaraan dari arah lawan tak terlihat. Disini pak Joko malah ambil kanan, terus ngeblong tanpa henti. Eka yang tak berani ambil resiko dan memilih antri pun kena lagi. “Yee.. aku duluaan..”, hehe.. Sorak saya dalam hati. Mesin boleh kalah, tapi soal skill jangan ditanya.

Bra’an Kertosono, antrian panjang terlihat. Asri tetap dijalur kanan karena dari arah lawan tak ada kendaraan yang menghadang. Ternyata ada KA yang akan menyilang jalan raya. Ditengah antrian itu pula Mila AC yang dijuluki “Luna Maya” tadi terjepit dan kembali tersusul. Ambil garis terdepan, usai kereta lewat. Palang dibuka, kedipan lampu jauh disorot 2 kali, Asri berhasil mempertahankan posisi terdepan.

Pukul 01.47, sekitar Bagor. Laju yang dari tadi konstan lagi-lagi terhenti oleh pintu pengaman perjalanan kereta api. Tak banyak antrian, hanya 1 mobil Kuda Grandia dan polisi patrol bermotor.

“Maringene yen luna maya ngeblong, payah haha..”, ucap kondektur yang mengantikan posisi kernet didepan.

Aku ga nduwe nomere”, balas pak joko sambil mengutak-atik hp.

“Lha lha lha.. iku tenanan..”, sambil mengawasi spion, pak joko melambaikan tangannya keluar jendela memberi tanda “Awas Polisi” pada Mila. Beruntung kereta cepat berlalu, lalin jalan lagi dan Mila berhasil masuk ke antrian.

02.10, Saradan. Mila sudah tak tampak lagi, namun giliran Eka kembali mendorong Asri dari belakang. Tapi sebentar.. headlampnya kok lain ini. Sementara saya hanya menghafal lampu ‘mayang’nya saja. Bukan Eka, tapi Mira. Peraduan mesin dijalan lurus, bolehlah kalah pertama, Mira 7166 itupun sempat sesaat didepan. Tunggu saat gigi top, dimana nafas RK-t benar-benar panjang. Gandeng-an didepan menghadang, sementara Mira masih sebatas menengok, Asri yang injakan gas sudah dalam, dapat melibas dengan mudah. Teet teet… klakson berhasil membuat kepala Mira masuk lagi dijalurnya.

Pertigaan Caruban, terhenti traffic light sambil persiapan belok kanan. Mira 7166 disusul Sugeng Rahayu 7006 lurus menuju Madiun. Lampu hijau nyala, Asri disusul Eka 7523 tadi belok kanan. Eka kembali didepan, sementara pak Joko menghentikan bisnya dengan lampu hazard dinyalakan.

“Ohh.. buang air kecil..”, dalam hati saya ambil kesimpulan.

Masuk kembali memegang kemudi, sambil minum air mineral dari bekal botol yang dibawanya dari Banyuwangi. Bis kembali dijalankan. Sementara suasana kabin sudah sunyi senyap sejak lepas Pasuruan, tinggal saya, pak Joko dan kondektur yang masih melek. Kernet juga tampak tertidur pulas dikursi paling belakang saat saya tengok.

Masuk Karangjati, batas masuk Ngawi. Gunung Harta dengan sassis mercy elektriknya didepan, tebakan saya 1626. Seperti biasa, ada musuh, baru lari. Ini juga berlaku pada GH, menyadari Asri mendekat, suara mesin terdengar semakin keras tanda gas yang diinjak lebih dalam. DK 9191 XX, cukup lama Asri meladeni GH satu ini. Aneh memang, 1626 dikejar RK turbo yang berhasil mengimbangi. Tak sadar, sayapun nyengir tiba-tiba, saat melirik pak Joko yang pegang kemudi dengan 1 tangan. Sementara tangan kiri tetap diatas paha, kadang dilemas-lemaskan. Tenang banget rasanya.

Mendekati bypass Ngawi, cukup sudah main tempelnya. Diiringi sebatang rokok yang beliau sulut dengan korek api, sesaat itu pula suasana dibalik kemudi kian hangat. Sama seperti meladeni Livina di Lumajang, perlambat guna ambil kuda-kuda, ambil jarak, jangan terlalu jauh dan akhirnya GH berbody Jetbus itu terlewati juga. GH sudah jauh, giliran Eka Tourismo lagi-lagi terlihat. Asri yang sudah terlanjur dijalur kanan tak mau repot-repot injak rem. Tertahan rombongan mobil pribadi, Eka melambat seiring lampu merah menyala. Dapat celah, Asri masuk ke bahu jalan sebelah kiri.

“Paimaan..”, ujar pak Joko pelan saat bisnya berhenti disamping bis yang juga 1 garasi nantinya di Jogja.

“Wuiiik.. Dona Doni kesusul??”, sempat terbelalak tak percaya dan baru menyadari kalau Asri tengah berdampingan dengan Mila Sejahtera Dona Doni. Mila pelari yang dijoki oleh Haji Paiman. Benar-benar handal pak Joko, top dah, makasih mas Alex rekomendasinya. Sekarang saya benar-benar percaya..

Lampu hijau nyala, Asri start terlebih dahulu.

03.37, Gendingan, masuk daerah Alas. Lampu mayang 6 tiba-tiba ngeblong, yaa.. Dona Doni menyusul. Asri mempercepat sprintnya di jalan yang gelap ini, Mila tak boleh hilang ditengah kegelapan. Kini berduaan, dua armada warisan pak Tingok. Dengan joki yang sama-sama handal. Armada yang sudah bernafas tua tak membuat keduanya rendah hati dijalur ini, karena mereka juga pernah jaya dibawah naungan Akas II.

“Ra ono wonge, yo enteng..”, ucap pak Joko. (Sedikit penumpangnya, ya ringan..)

Akas Asri Banyuwangi-Yogyakarta

Akas Asri Banyuwangi-Yogyakarta

Perlahan Asri menjauhkan diri dari bokong Mila yang terus mengeluarkan suara seruling. Hingga akhirnya Mila hilang dari pandangan. Menyusul, ada lagi yang nempel dibelakang. Pak Joko tampak memberi jalan, Mira 7166 dengan body Inspiro lagi-lagi nyusul. Weeh.. lumayan joss nih Mira. Padahal dia masih muter Madiun. Boleh lah kapan-kapan dicoba..

Sragen, ekor Mira 7166 perlahan juga melesat dibalik antrian truk-truk besar.

Masaran, Dona-Doni kembali terlihat, kali ini jalannya tak se-extreme tadi saat di Alas. Mungkin pak Paiman ingin santai. Tak lama beriringan, Asri berhasil mendahuluinya lagi.

“UNS pak…”, seru dua cewek yang duduk dikursi A dan B (paling depan sebelah kiri).

“Lo udah lewat mbak..”, balas pak Joko sambil meminggirkan bisnya.. “Mlampah sekedap mbak, olahraga..”, sambung pak kondektur.

Pukul 04.44, Asri masuk terminal Tirtonadi – Surakarta. Banyak penumpang yang turun disini, termasuk saya. Sementara Dona-Doni saya lihat hanya menurunkan beberapa penumpangnya diluar, dan langsung lanjut Jogja.

Usai pamit turun sama pak Joko, saya bergegas cari mushollah untuk segera sholat. Mumpung matahari masih belum keluar dan langit masih gelap..
Alhamdulillah.. sekian saya tulis catatan perjalanan bersama Akas Asri ATB RK-turbo yang dipawangi oleh Pak Joko. Driver handal ber-style dijalur Banyuwangi-Jogja. Saya benar-benar terkesan dibuatnya..

Akhir kata, terima kasih kepada Allah SWT, kedua orang tua, mas Alex atas rekomendasinya, pak Joko beserta kru dan seluruh dulur BMC Tapal Kuda, serta seluruh pihak yang membantu..

Mohon maaf ceritanya terlalu panjang, semoga anda tidak capek membacanya. Hehehe.. Maturnuwun..
Saptanu Yuniar – TPK006

About Saptanu

This isn't about The Destination, but it's all about The Glory of Going There.

Posted on 10 Januari 2014, in Blog Area. Bookmark the permalink. 11 Komentar.

  1. Asri yogyakarta pancen oyee… TOP abis!!

  2. capernya mas tanu dari dulu tidak pernah membosankan… mantap

  3. Tulisanmu iki suangar nu… keren..

  4. hahaha,jalur banyuwangi-jogja PP emang pantes kalo dikuasai keluarga besar PO Akas,coba Surabaya-Jogja PP keluarga besar PO Akas ikutan ngeramein,bakalan kebakaran jenggot si EKA MIRA sama satu lagi SUMBER selamat,wkwkwk,jalanan kok kayak mainan dirumah sehari-hari,hahaha,sebagai warga kota probolinggo,bangga punya transportasi dari kota sendiri yang handal di kandang lawan,wkwkwk

  5. Untuk temen temen BMC silahakan coba deh performanya pk Sugik Bongak dengan Mila Discovery Bwi – Yogya, dijamin ngeblonk bget. klo gk salah waktu itu minggu malam saya ikut dari jmbr pas ada gerak jalan tradisional Tajem. dari jmber sih biasa aja larinya, tpi slepas terminal mojokerto. 1 Harjay,2 Mira, dan 2 Sumber group dilibas ma Pk Sugik.

  6. Kalo boleh tau ciri2 pak joko orangnya berkumis ta mas?

  1. Ping-balik: Jam Ngepres… Kejar Kasih di Dalam Asri | Andromeda Site

Monggo kemukakan saran, kritik dan pertanyaan jika ada.. [Dimohon disesuaikan dengan konten yang tercantum]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s