NS Royal kian Cepat & terSelamatkan Hafana [Part II]

Catatan sebelumnya..

11.40, tiba di terminal Terboyo.

Setelah menghitung-hitung waktu tempuh, saya putuskan untuk naik jurusan Solo dulu. Rencana ingin pulang ke Probolinggo dari Jogja ikut Mila atau Akas. Kalau langsung ambil Semarang-Jogja, pasti kena jackpot di Ungaran dan Magelang nih..

“Solo.. solo.. eh, monggo mas.. yang ijo berangkat dulu..”,

Royal Safari Solo-Semarang

Royal Safari Solo-Semarang

Saya rebahkan badan di dalam kabin ber-AC milik armada Royal Safari. Kombinasi seat 2-2, sassis Mercy OH 1525, cukup nyaman. Katanya sih ini bukan patas, tapi juga bukan AC tarip biasa menurut saya. Ada perbedaan tarip di jalur ini antara AC seat 2-2 , AC seat 2-3, dan non-AC seat 2-3. Entah, saya kurang paham pembagian kelasnya. Bagi saya, untuk AC 2-2 ini termasuk patas, bagi yang mendapatkan duduk. Bagi yang berdiri?? Haha.. pasti rugi. Sudah bayar tarip termahal, tapi malah berdiri.

11.45, Royal Safari berangkat.

Masuk tol, sempat beradu gengsi antara sopir Royal dengan Eka Semarang-an. Royal dipacu maksimal dan meninggalkan Eka jauh dibelakang.

Namun tak lama, kondisi membalik. Disebuah tanjakan, Royal yang saat itu jalan > 100 km/jam perlahan turun speednya. Turun gigi 5, eh.. turun lagi 4. Eka akhirnya melibas dengan gampang. Sambil geleng-geleng kepala dan turun lagi ke gigi 3, sopir royal hanya bisa tersenyum, Hehe.. Mengakui saat di mana yang tertawa terakhir dialah pemenangnya.

Tampak Eka dengan rute Sby-Solo-Semarang tersebut menanjak dengan enteng. Jalur Solo-Semarang memang memiliki kontur jalan yang tidak datar. Baik jalan tol juga tak luput dari adanya tanjakan. Mesin perlu disetel sedemikian rupa, antara torsi dan power. Agar bis bisa lari dijalan datar, dan juga tidak cepat kehabisan nafas saat menanjak.

Masuk Ungaran, seperti biasa. Kemacetan panjang mulai menghambat perjalanan..

13.00, masih disekitar kemacetan, sementara arah Semarang arus masih padat lancar. Tiba-tiba sesosok bis yang agak asing terlihat dari arah berlawanan.

“Eh.. eh.. Aduh..”, bingung sendiri, saya coba ambil hp berharap bisa mengambil objek langka tersebut.

“Hmmm.. “, gagal mengabadikannya.

Dialah unit terbaru PO. Sinar Jaya yang akan tampil di IIMS 2013 akhir bulan ini. Pasti baru keluar dari Karoseri Laksana, dibalut model Legacy Sky terbaru. Dan katanya, unit tersebut terpasang sassis Hino RN8J, seri terbaru dari Hino. Namun setelah saya gali info dari mas Adi, yang merupakan orang Hino. Dia belum berani memastikan apa benar itu RN8..  Benar faktanya, setelah kemunculannya di IIMS 2013.

Padatnya lalu lintas Ungaran

Padatnya lalu lintas Ungaran

13.10, masih belum keluar dari kemacetan. Jenuh.. mungkin iya, akhirnya saya mencoba tidur.

14.30, masih di wilayah Salatiga. Saya hubungi dulur BMC Tapal Kuda yang saat itu sedang ada di Jogja. Berharap giliran Mila Dona-Doni menuju jember malam ini.

14.59, Boyolali. Armada jakartaan mulai terlihat menuju arah barat. Mulai dari Aneka Jaya, Rosalia, Gunung Mulia, Jaya, dll.

“Kalau pak Joko, tanya alex aja, Dona-Doni tanggal ganjil dari Jogja. Sekarang weekend, asri mulai jam 2-jam 6 nu.. Kemarin aja jam 7 mila sudah habis, apalagi nanti weekend.. Kamu masih di mana?”

Oh tidak, jam 3 masih belum masuk Solo. Cemas, khawatir, bingung semua bercampur setelah dapat balesan sms di mas Adit Junoz. Kira-kira nutut Akas yang mana nih nanti. Dona-Doni sudah tercoret dari list, pak joko tidak bisa dipastikan karena sopir aplosan.

15.40, Royal Safari masuk Terminal Tirtonadi-Solo.

Mengambil langkah panjang, saya masuk gedung baru di Tirtonadi tersebut. Pertama kalinya masuk,  sempat terkagum saking bagusnya, ber-AC dan difungsikan dengan baik, mirip bandara. Sayang tak bisa menikmatinya lama-lama. Armada SG/Mira adalah andalan terakhir.

Belum siap dan masih berjalan terburu, armada Sumber Selamat arah Jogja masuk jalur bebas. Tak mau ditinggal dan harus menunggu lagi, saya lari ke arahnya.

“Jogja pak?..”
“Iya.. ayo cepet mas..”, balas kernet yang juga tampak terburu itu.

Alhamdulillah bisa masuk dan mendapat tempat duduk.

16.44, masih disekitar Klaten. Hm.. AA terakhir pasti ga nutut.

“Tadi udah aku telepon, Dona Doni memang dari Jember malam ini, nanti terakhir ada Bledex jam 18.30 berangkat. Kamu nyampe mana nu?”
“Masih klaten mas, AA terakhir ga nutut, semoga aja dapet Mila..”

Mas Adit memberi info lewat sms. Apa iya nih bakal ikut bledex, denger-denger pak Imam (sopir lama) sudah ga pegang bledex lagi. Ragu jadi ikut atau tidak karena belum tahu performa si Bledex ditangan sopir barunya.

17.30, tinggal 3 persimpangan lagi masuk giwangan. Sumber Selamat berhenti dibelakang armada incaran terakhir di persimpangan berikutnya. Waduh, Mila Bledex ternyata sudah dalam perjalanan ke giwangan. Hampir pupus harapan untuk ikut Mila dan Akas malam ini.

Masuk giwangan, saya turun di dalam terminal. Di jalur pemberangkatan Surabaya dan Banyuwangi, sempat saya ambil foto si Bledex dan tanya jam berangkat pada kernetnya selagi sopir memarkirkan bisnya.

Mila Sejahtera Bledex

Mila Sejahtera Bledex

Bledex parkir, penumpang langsung menyerbunya.

Sempat saya marah dan ngambek dengan diri sendiri. Benar-benar gagal total untuk pulang ke Probolinggo.

18.30, seusai mandi, saya sempatkan cangkruk dengan mas Adit Junoz dan mas Anwar di angkringan giwangan, diseberang pemberangkatan Jogja-Cilacap/Purwokerto. Kebetulan kedua dulur Tapal Kuda ini juga akan turing malam ini, Efisiensi Big Top ingin mereka jajal. Sambil mengisi perut dan jajan gorengan, kami ngobrol ngalor-ngidul (kemana-mana). Sempat juga berbincang dengan kondektur SG yang pernah kerja di Akas 10 tahun. Waw lama juga ya.. pasti asli jatim. Benar, bapak tersebut asli Malang.

20.20, waktunya kami berpisah. Mas Adit Junoz dan mas Anwar menuju jalur pemberangkatan yang sedang diisi Efisiensi Big Top 2-1. Semantara saya memutuskan diri untuk kembali ke Malang dan sepertinya naik Eka ke Surabaya dulu.

20.34, shelter yang sempat kosong 10 menitan, akhirnya diisi Eka. Eh.. 7328, Eka yang dulu saya naiki dari Solo saat Turing Keluar Jalur dengan mas Adi.

20.50, Eka S 7328 US berangkat meninggalkan terminal Giwangan. Tak lama kosong, Eka dengan body lagi-lagi New Trav Morodadi Prima mengisi shelter Keberangkatan. Hanya sedikit isi kabin, langsung saya naik dan dapat seat nomer 2 dari depan.

LCD TV cukup besar sedang dinyalakan. Pertandingan sepak bola antara Persebaya dan Perseru ditayangkan secara live dari Solo. Beberapa penumpang terlihat antusias nonton pertandingan yang sedang berada dalam menit-menit terakhir tersebut. Pukul 9 lebih 10, pertandingan sudah usai, para bonek mania tampak bersorak ria ditayangan tsb saat team favoritnya menjadi juara utama.

21.25, pak sopir yang sudah berumur tersebut masuk kabin dan mulai bersiap memegang kemudi. Eka dengan nopol S 7366 US waktunya berangkat..

Perjalanan Solo-Jogja, LCD TV masih dalam keadaan hidup. Jujur, keadaan ini sedikit mengganggu bagi penumpang yang ingin merem, termasuk saya, karena mata pasti silau kena sorot sinar TV.  Pak sopir yang berperawakan kurus ini juga masih santai membawa Eka. Tidak ada kesan terburu, lagian percuma, jalur utama Solo-Jogja hampir didominasi persimpangan. Tidak cocok untuk dibuat main ngejoss.

Masuk terminal Tirtonadi-Solo. Eka dengan body rombakan (sepertinya), sedang mengisi shelter patas surabaya. Sementara si 7366 yang ingin lanjut perjalanan tiba-tiba dihentikan lajunya oleh salah satu mandoran Eka Mira. Percakapan serius dimulai antara kondektur dengan mandoran tersebut..

“Wonten nopo pak”,
“Jangan nggandeng, dia dulu berangkat.. Dijalan masih kacau, nanti kita para mandoran ikut mantau keadaan jalan. Syukur kalau cepat kondusif.”
“Oh njih… Yowes lek muter sek..”,

Begitu kira-kira perbincangan yang saya dengar. Kemungkinan ini antisipasi para mandoran pasca kejadian kemarin seusai pertandingan Persebaya digelar. Yang sempat menjadi korban adalah Eka yang disinyalir membawa bonek, padahal tidak.

Akhirnya Eka dengan body rombakan tersebut berangkat dulu. 7366 muter dan giliran mengisi shelter. Cukup banyak penumpang yang terangkut dari sini. Belum 5 menit parkir, kabin sudah terisi penuh.

23.15, keluar terminal Tirtonadi. “Bismillah, semoga tidak terjadi apa-apa..”, berdo’a saya dalam hati.

Lepas Surakarta, gas mulai diinjak lebih dalam. Performa Hino RK8 mulai dipacu maksimal. Tanpa ragu, beberapa kendaraan besar dan kecil diblong dengan halus. Sama sekali tak ada gerak gerik terburu saya lihat, dengan santai tangan kiri pada tuas kopling, dan tangan kanan pak sopir memutar kemudi sambil sesekali memainkan sein kanan kiri. Rupanya ini sopir senior, pundak juga masih menempel pada sandaran seat. Gaya nyetir yang keren.. Hehe..
Mantingan, sesosok Eka tampak didepan. Hah?? Eka? Berarti Eka yang tadi berangkat lebih awal kena susul. Cukup lama, 2 unit Eka ini nggandeng. Meski pada akhirnya si Eka depan menyerah.

Eka Cepat S 7366 US di RM Duta

Eka Cepat S 7366 US di RM Duta

Masuk RM. Duta Ngawi, waktunya istirahat dan makan. Terlihat Eka 7328 juga sedang parkir menunggu penumpangnya yang sedang makan. Duduk sendiri dan usai memesan nasi pecel, Eka yang berbody rombakan tadi menyusul parkir di RM. Duta. Entah saya lupa berapa nopolnya, padahal sudah melihat dan mencoba mengingatnya untuk ditulis. Hehe..

Minggu, 15 September 2013,

01.05, Eka 7366 berangkat melanjutkan perjalanan.

Lewat karangjati, Sugeng Rahayu dengan body Discovery tampak menari didepan dengan lampu hazard menyala. Pastinya dia armada SG Semarang-an. Eka terlihat sulit mendahuluinya. Hanya bisa mendekat dan kadang dispasi oleh kendaraan lain. Cukup gesit si Discovery. Jalan lurus, masih saja RK8 belum mampu mengejar si AK8 Semarangan tersebut.

Masih belum berakhir peraduan mesin antara Eka dan Sugeng Rahayu. Tiba-tiba, “teet teeeet…”,dari arah kanan ngeblong 2 unit Rosalia Indah Purwokerto-Malang dan Purwokerto-Jember. Armada dengan body Celcius dan Jetbus tersebut saya akui banter. Eka dan Sugeng Rahayu terbukti kalah gesit.

Caruban, Discovery berhenti menurunkan penumpang. Kesempatan untuk bisa lari lebih kencang didepan. Eka akhirnya melepas pandangan jenuhnya yang daritadi hanya melihat bokong si Sugeng Rahayu.

Saradan, penumpang yang duduk disamping saya turun. Saya taruh tas di seat sebelah dan terlelaplah saya dalam tidur.

03.55, terbangun, Eka tengah berhenti mengisi solar di SPBU langganannya, SPBU Balongbendo. Solar seharga 880 ribu dibayar kondektur, berapa liter ya? Saya lupa mengingatnya.. Kalau penasaran coba dihitung sendiri. Hehe..

Alhamdulillah wa syukurillah.. pukul 4 pagi lebih 18 menit, saya turun dari Eka, tiba di Terminal Purabaya. Menghadapi jalur Keberangkatan bis antar kota, patas malang sedang diisi Tentrem Scorpion King. Langsung saya naik dan mencoba kembali tidur diseat yang dibalut Rimba Kencana.

5 menit, belum lelap, sms dari mas Alex masuk..

“Kamu di mana sekarang?”
“Dibungur mas, ada apa?”
“+628180xxxx, coba dihubungi, itu nomer dulur BMC bali namanya andre. Dia baru mendarat juga, mau ke malang siapa tahu bisa bareng.”
“Wah, bis ku sudah mau berangkat nih mas.. di mana dia?”, sambil tengok sopir yang baru masuk.
“Turun.. kasian lo dia jauh-jauh dari bali..”,

Sebelum bis keluar terminal, saya pun permisi pada kondektur untuk turun dari bisnya.
Setelah bertemu, kami sempat berbincang dan mengakrabkan suasana. Patas Hafana berbody Jupter Li dari Tentrem, menjadi tunggangan kami selanjutnya. Sempat mas Andre bercerita, bahwa ini adalah pertama kalinya dia benar-benar transit di bungur. Heran mungkin iya, masih pagi tapi suasana bungurasih sudah sangat ramai (baginya). Hehe.. Beda dengan suasana di Bali. Sekian tahun yang lalu sebenarnya pernah ke bungurasih untuk njajal Sumber Kencono, tapi tak lama karena sedang rame dan setelah itu naik SK-nya dari garasi.

“Ada acara apa dimalang mas?”
“Ya cuma jalan-jalan aja, nanti siang rencananya mau ke garasi Midas. Di batu kan?”
“Owalah, mau njajal Midas yang baru itu a?”
“Iya.. sudah pesen tiketnya.. Naik dari garasi mungkin..”

05.20, Hafana berangkat.

Hafana Patas Jupiter Li

Hafana Patas Jupiter Li

Hampir seluruh waktu tempuh perjalanan Surabaya-Malang, hanya kami isi dengan tidur. Maklum, kondisi fisik keduanya sudah sama-sama capek.

Alhamdulillah, 06.53, Hafana masuk terminal Arjosari – Malang. Kami berdua berpisah setelah mas Andre dijemput temannya. Sementara saya lanjut naik angkot menuju kontrakan.

Mengakhiri catatan perjalanan ini, saya ingin berterima kasih kepada Allah SWT, kedua orang tua, mas Adi, mas Junoz dan mas Anwar dulur BMC Tapal Kuda, seluruh kru Nusantara, Trans Semarang, Royal Safari, Sumber Selamat, Eka, Hafana serta seluruh pihak yang telah membantu saya baik secara langsung maupun tidak.

Sampai bertemu di caper selanjutnya..

Saptanu Yuniar, BMC Tapal Kuda.
Salam Sejatinipun Seduluran.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

About Saptanu

This isn't about The Destination, but it's all about The Glory of Going There.

Posted on 16 September 2013, in Blog Area. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Very nice post. I definitely appreciate this website.
    Keep writing!

  1. Ping-balik: NS Royal kian Cepat & terSelamatkan Hafana [Part I] | Andromeda Site

Monggo kemukakan saran, kritik dan pertanyaan jika ada.. [Dimohon disesuaikan dengan konten yang tercantum]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: