NS Royal kian Cepat & terSelamatkan Hafana [Part I]

Jum’at, 13 September 2013

“Piye iki nu? Sido ndak onok motor maneh..”,
“Yawes ndak sido melu mas..”,

Menggalau akhirnya, karena ga bisa ikut teman 1 kontrakan yang berencana camping di Ranu Kumbolo, salah satu objek wisata dikaki gunung Semeru.

Terik matahari di kota malang kian terasa, sedang menjalani hari-hari dikampus tercinta Brawijaya. Tiba-tiba sms pengobat galau masuk, sumringah saya membalasnya.

“Ayuuk dah.. tak tunggu diarjosari jam 7 malam, tapi seat sedapetnya ya…”,
“Oke siaap mas..”,

Berawal dari obrolan santai saling tanya akan ada rencana turing kemana. Dan berakhir pada rencana turing bareng nanti malam.

18.59,

“Dimana mas?”,
“Ngurus tiket broo..”, asiik.. ternyata sms iseng saya untuk ditraktir tiket malam ini ditanggapi serius oleh mas Adi. Hehe..

Setelah saling cari, akhirnya kami berdua bertemu di Terminal Arjosari malam itu. Mas Adi kebetulan akan berangkat ke Semarang, dan saya sekedar ngikut karena pasti dikontrakan akan sepi. Alhamdulillah tiket untuk seat kosong masih ada, kali ini PO. Nusantara menjadi pilihan, meski dapat bagian belakang.

20.20, semua armada bis malam pada berangkat dan arjosari kian sepi. Barulah, giliran Nusantara berangkat. Paling akhir sendiri diantara para kompetitornya, Handoyo, Rosalia Indah, OBL.

Malang-Pandaan, belum ada yang istimewa saya rasakan dari Nusantara HS228 ini. Lalu lintas juga masih padat lancar. Masuk arteri baru porong, gas mulai diinjak dalam-dalam. Seolah baru lepas dari jeratan padatnya lalin,
“Ini freeway, aku pengen lari lebih kenceng..”.
Begitu mungkin bila diibaratkan manusia. Mercy OH 1526 dipacu maksimal. Jalan zig zag juga ditempuh untuk melewati mobil-mobil pribadi yang pada nge-becak. Lumayan ngejoss.. Tapi.. Sebentar, ada yang aneh. Ini kan mercy? Kok rasanya setiap pindah gigi, rpm serasa disendal. Suara mesin seperti menjerit, tidak biasa hal ini saya rasakan selama naik bis mercy. Untuk potensi banter, cara ini memang bisa membuat bis lebih lari. Pindah gigi bisa diibaratkan sebuah pecutan. Saya yang duduk dibelakang, otomatis bisa dengar suara mesin. Memang saya kurang paham soal mesin, tapi setiap mendengarnya sempat kasihan. Mesin digeber sedemikian rupa. Yaa.. mungkin ini salah satu trik pak sopir bawa bisnya. Sesaat saya sms mas adi untuk ngobrol, karena jarak seat kami agak jauh.

“Mercy tapi pindah gigi kok kayak disendal?”
“Iya, wes ga bener rupanya, naikane juga, pake per tambahan mungkin”,

Meski kerja di Hino, tentunya mas Adi paham lebih dalam tentang mesin.

Nusantara punya beberapa pemberhentian agen di Surabaya. Keluar tol di gerbang waru, 1 penumpang naik di daerah medaeng. Masuk tol, dan keluar lagi arah pasar turi.

22.50, Nusantara sudah full seat. Saatnya kembali merajai jalanan malam itu. Jalan bebas hambatan Surabaya-Gresik yang lurus menjadi alasan untuk bisa lari lebih kencang. 1 unit Jaya Utama non-AC dengan balutan body dari Tentrem diblong tanpa perlawanan. Suasana dibalik kemudi menjadi sibuk saat pedal gas, kopling dan rem bergiliran diinjak, kemudi, panel klakson, lampu jauh dan sein juga bekerja lebih keras malam itu. Kontras pasti bila dibandingkan dengan suasana kabin yang sunyi senyap, penumpang pada terlelap, dan sebagian mungkin hanya berdiam diri. Begitupula saya, dengan berselimut merk nusantara mulai dilanda ngantuk. Seat dari Aldilla yang tebal dan empuk memang menggoda untuk tidur. Semantara mas Adi sudah dari tadi begitu nyenyak tidur saya lihat. Tak lama kemudian, ternyata sayapun ikut nyusul ke alam mimpi.

23.34, terbangun, Nusantara sempat berhenti didepan terminal Lamongan. Macet? Oh bukan ternyata, ada KA yang sedang permisi memotong jalan raya. Merem lagi, dan kembali bangun setelah Nusantara parkir di salah satu warung sederhana.

Sabtu, 14 September 2013

Semua penumpang dipersilahkan istirahat dan sebagian juga ada yang pesan makan diwarung yang berada dikabupaten Bojonegoro bagian timur tsb. Warung Barokah, begitu tulisannya.

“Gimana, makan a mas?”,
“Tadi sih aku udah sama temen-temen, kamu gimana?”,
“Kalo makan ya ayo bareng2 aja.. Kalo ga ya ga juga.. Hehe”,
“Ayok dah..”,

00.40, Nusantara melanjutkan perjalanan. Namun sepertinya ga lewat jalur utama yang biasa dilewati. Mungkin menghindari kemacetan yang biasa terjadi di Tuban. Malam ini Nusantara lewat Bojonegoro. Dan biasanya tembus jatirogo sampai ke Rembang. Begitu perkiraan mas Adi saat kami ngobrol diwarung tadi.

03.05, masuk Rembang, sudah balik lagi dijalur utama semestinya. Belum lama dipantura, Nusantara bertemu dengan Subur Jaya Pariwisata. “Ah.. parwis, masa’ kalah..”, bergumam saya meng-underastimate si SJ. Tidak lama ditempel dari belakang, Nusantara mendahuluinya. Bersorak saya dalam hati setelah perkiraan benar.

Jalan akhirnya sepi penghuni. Nusantara berlari sendirian dengan kecepatan yang lumayan. Eitss.. sebentar, saya tengok kesebelah kiri belakang, seperti ada lampu kendaraan yang menyorot. Ternyata Nusantara sedang tidak sendiri, ada kendaraan dibelakang yang mengekor. Dan juga berkecepatan tak jauh beda, dilihati dari sorot lampu yang tidak menjauh sama sekali. Belum jauh dari Kota Rembang, 1 penumpang turun. Ketahuan akhirnya kendaraan misteri yang dari tadi mengekor. “Uwaah.. si SJ rek..”, sorak hati yang tadi berkibar seolah putus, lepas dan akhirnya jatuh. Menyesal karena telah meng-underastimate Pariwisata yang bermesin RK8J tersebut. Berangkat lagi, gas kembali digeber dengan cara yang masih sama. Namun apa daya, si Subur Jaya sudah tak tampak lagi didepan. Gila.. banter juga si SJ itu.

03.49, alun-alun Pati. Beberapa penumpang turun. Lanjut perjalanan, ambil kiri arah purwodadi. Nah loh?? Purwodadi? Mau kemana nih Nusantara.

“Lewat mana ini mas?”
“Wonten laka mbak, ini lagi cari alternatif..”

Tanya cewek sebaya yang duduk disamping saya pada kondektur yang baru keluar dari Toilet. Owalah, ada kecelakaan rupanya di jalur utama. Tak sadar, saya kembali terlelap dalam tidur.

04.55, langit mulai terang. Terbangun, karena serasa digoyang kanan kiri. Bukan digoyang banter ini. Malah sedang berada dijalan rusak yang sempit diapit persawahan. Body Jetbus yang High-Deck ini benar-benar terasa goyangannya ke kanan dan kiri, sementara pak sopir sedang kerja keras mencari jalan yang enak demi kenyamanan penumpang. Rupanya percuma, jalan ini rusaknya begitu parah dan berlubang lumayan dalam. Tidak cocok dilewati kendaraan besar.

05.10, kress dengan Gunung Harta Jakarta-Surabaya-Malang di wilayah Kudus. Sempat kedua bis ini berhenti ditengah jalan alternatif dan kedua sopir tampak ngobrol sebentar. Mungkin saling memberi info, tentang daerah rawan macet.

05.33, Kota Kudus. Beberapa penumpang diturunkan.

“Eh.. akas..”
“Iya tuh.. “,

Saya dan mas adi saling toleh dan membicarakan si Akas IV non-AC Banyuwangi-Semarang yang menuju arah semarang. Tumben jam segini masih di Kudus, berarti benar ada kemacetan panjang di pantura kemarin dini hari.

Sesampainya di Semarang, Nusantara HS228

Sesampainya di Semarang, Nusantara HS228

Alhamdulillah, pukul 6 pagi lewat 10 menit Nusantara sampai di pemberhentian terakhir, Semarang. Tidak masuk terboyo, semua penumpang turun diluar terminal.

Agenda sesampai di Semarang adalah keliling kota dengan 2 tempat tujuan, bukan objek wisata dengan tafsiran secara umum. Melainkan sebuah terminal transportasi darat yang ada di Semarang, yaitu Terminal Mangkang dan Terminal Penggaron. Menggunakan fasilitas Trans Semarang yang memberikan transportasi murah dan nyaman, saya nikmati pemandangan kota Semarang.

Interior Big Bus Trans Semarang

Interior Big Bus Trans Semarang

Hanya dengan merogoh kocek Rp. 10.500, 3 x naik bus Trans Semarang (@3.500 sekali jalan jauh dekat), kita bisa telusuri beberapa sudut kota Semarang. Bicara mengenai Trans Semarang, transportasi setara busway ini memiliki 2 jenis armada dengan rute yang berbeda, untuk rute Ungaran-Kota PP terdapat medium bus berwarna merah, Mitsubishi Canter, dan untuk rute Mangkang-Penggaron diberikan big bus Hino RK8 Proteus berwarna silver metalic. Tak perlu khawatir kepanasan, semua armada Trans Semarang dilengkapi AC.

Trans Semarang Medium Bus

Trans Semarang Medium Bus

Usai mengunjungi Terminal Mangkang, sebuah terminal terbesar di Semarang, namun bisa juga dibilang tersepi apabila dihitung kepadatannya. Lanjut perjalanan menuju terminal Penggaron, tempat transit untuk bus-bus jurusan Purwodadi, Solo, dll. Tak lama saya berada di Penggaron, mengingat hari sudah makin siang. Akhirnya saya kembali ke terminal terboyo beserta mas Adi yang sekedar mengantar.

11.11, sampai di halte transit bagi yang menuju terboyo. Sementara big bus akan lanjut perjalanan ke Mangkang, saya oper ke medium bus, si merah cabe rawit. Hehe.. Dan di sini pula saya dan mas Adi harus berpisah. Mas Adi tiba-tiba harus pulang karena ada urusan, saya lanjut perjalanan ke Jogja.

Maturnuwun mas.. Sampai ketemu lagi..

To be continued…

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

About Saptanu

This isn't about The Destination, but it's all about The Glory of Going There.

Posted on 16 September 2013, in Blog Area. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Monggo kemukakan saran, kritik dan pertanyaan jika ada.. [Dimohon disesuaikan dengan konten yang tercantum]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s