5 Etape 47 Jam

Pukul 13.20 waktu setempat di hari Sabtu 24 Agustus 2013, saya tiba di kota perantauan, kota Malang. Setelah sekian minggu berlibur dikampung halaman, Probolinggo tercinta, sudah waktunya untuk kembali menuntut ilmu dan menata masa depan.

Sengaja saya kembali lebih awal, akhirnya celah kesempatan saya temukan. Rencana awal memenuhi undangan CTM dulur-dulur BMC Tapal Kuda nanti malam. Tetapi, faktor X berhasil mengubah haluan rencana. Acara CTM yang tiba-tiba digeser lokasi dari Alun-alun Situbondo ke Pelabuhan Penyeberangan Ketapang. Pertimbangan kembali saya olah mengingat bertambahnya  waktu tempuh dan dana tentunya. Sungguh disayangkan, gelora touring sudah menyala-nyala sementara rencana awal hangus. Kemungkinan besar saya tidak bisa hadir.. Sepurane dulur-dulur.. Maybe next time..

Saya mencoba untuk merefresh pikiran yang mungkin ‘galau’ dengan beristirahat dan merem sejenak. Penat yang lumayan berat, 17.16 saya bangun dari tidur. Alhamdulillah pikiran dan fisik kembali fresh. Teringat pada agenda touring, ingin sekali mencoba Akas di jalur Surabaya-Ponorogo. Bukan Akas Green yang sudah terkenal ngejoss. Namun saudaranya yang menjajaki jalur ini tengah malam. Dialah Akas NNR yang start dari Bungurasih pukul 1 dan 2 dini hari, dengan armada odong-odong, armada bumel yang sebenarnya bumel. Bukan sess yang saya cari kali ini, kenyamanan juga pastinya bukan. Penasaran akan gelagat si NNR di jalanan dengan bis lawasnya, sementara kompetitor sudah ber-ATB dan kinyis-kinyis bisnya. Bagaimana nantinya? Saya juga belum tahu..

18.00, melangkah saya keluar kawasan Universitas Brawijaya menuju terminal Arjosari.

70 menit kemudian, tiba di terminal Arjosari. Traffic jam di malam minggu memang membosankan. Duduk santai di  bangku tunggu jalur Keberangkatan patas. Uwaaah.. ditengah lautan debu arjosari, tampak SR-1 Hafana Patas sedang menunggu giliran dengan lampu kota yang menyala. HAZ Patas berangkat, diganti oleh Kalisari Nucleus mengisi shelter Patas Surabaya. Hmm.. belum saatnya SR-1 parkir, armada yang juga target ingin saya coba.  Nucleus berangkat, Setra Kalisari dengan lampu ‘kucing’ mengganti posisinya.

[Etape I Malang-Ponorogo]

Interior Patas Hafana SR-1

Interior Patas Hafana SR-1

19.48, lampu kabin SR-1 Hafana menyala, tanda dia sudah siap.. Ternyata benar, tak lama kemudian Setra Kalisari berangkat dan SR-1 Hafana parkir mengisi gilirannya. Masuk kabin si Hafana, penuh dengan sinar LED biru, dibagian atas maupun ditangga masuk. Kombinasi pas juga diberikan oleh seat dari Laksana yang dibalut warna biru dan abu-abu. Hampir mirip milik armada SG, namun lebih lebar.

20.05, meninggalkan shelter membawa 3 penumpang. Masih sedikit sekali, di pintu keluar arjosari Hafana mengeruk penumpang lebih banyak. “Cak pur… Melu yoo..”, terlontar kata-kata dari orang yang tak asing. Oh saya ingaat… Beliau adalah sopir AG Malang-Ponorogo, sopir yang handal. Sempat kami saling melempar senyum.. Mungkin beliau masih ingat siapa saya.. Hehe..

Pertigaan Karanglo, Hafana kembali mengisi seat kosongnya, 2 penumpang berhasil dibawa. Kondektur akhirnya bangun dari seatnya sambil membawa segembok karcis. Mengharuskan  setiap penumpang untuk membeli karcis tersebut.

Lepas fly-over lawang, Hafana mulai unjuk power 260 HP yang dimilikinya.. Aksi zig-zag juga diberikan untuk mewarnai padatnya jalanan malam itu. Suspensi Mercedes Benz seri ini memang berbeda dengan kakaknya yang lahir lebih dulu. Terasa lebih keras, apalagi saat jalan menurun yang disertai retakan membuat body bis bergetar. Beda sekali dengan seri 1521 yang terkenal empuk dan cocok untuk tidur nyenyak.

Masuk kawasan pertigaan Apollo, seperti biasa, antrian kendaraan mulai menghentikan laju Hafana. Cukup panjang, hingga jalur arteri baru kemacetan akhirnya teruai.

Tol Gempol-Waru, mungkin salah satu favorit bagi Hafana. Berlari dengan lampu sein kanan yang selalu menyala. Tanpa ragu, bahu jalan kadang menjadi pilihan untuk memperjelas pandangan dari bokong besar truk-truk, beruntung mobil patroli tak tampak malam itu, hehe..

21.40, masuk terminal Purabaya.

Tak terlalu ramai, stok bis yang mengisi keberangkatan masing-masing jurusan masih muat untuk mengangkut padatnya calon penumpang malam itu. Berjalan mendekat jalur Keberangkatan Ponorogo Magetan Pacitan. Restu ATB dengan body JetBus dan lampu hazard dinyalakan tengah mengisi jam. “Ponorogo mas.. monggo kosong kosong..”, ajak salah satu kru restu. “Mau cari makan dulu pak..”, balas saya seribu alasan. Belum pukul 10 malam, masih sekitar 3 jam saya harus menunggu demi Akas. Wah.. lama juga ternyata, gara-gara ngiler buru-buru naik si Hafana nih, Hehe.. Tak apalah..

22.20, Aneka Jaya dengan tujuan akhir Pacitan berjalan pelan dan parkir dibelakang shelter. Penumpang yang mungkin langganan ke Pacitan banyak berlari ke arahnya tanpa menggubris Restu ATB yang saat itu mengisi shelter keberangkatan. Inikah yang disebut loyalitas, disamping demi sampai tujuan tanpa oper lagi nanti. Mungkin iyaa.. bagi yang sudah mengenal siapa Aneka Jaya dengan tujuan Pacitan pasti akan bertindak sama. Daripada masih oper di Seloaji nanti. 25 menit kemudian, Aneka Jaya berangkat tanpa parkir lagi di shelter Keberangkatan. Jujur saya juga penasaran dengannya, banyak yang bilang joss dan rekomen untuk mencobanya. Lain kesempatan sajalah.. Terlanjur niatan malam ini adalah untuk Akas.

Rukun Jaya - Akas NNR - Jawa Indah - Sandy Putra

Rukun Jaya – Akas NNR – Jawa Indah – Sandy Putra

23.16, Yang ditunggu akhirnya datang, namun belum saatnya mengisi shelter Keberangkatan, Akas NNR parkir dibelakang. Assiik.. Armada bumel yang sebenarnya bumel nih. Non-AC, model setra, saya tebak mesinnya Hino AK174 atau Mitsubishi BM.

23.40, shelter kosong, tak ada bis yang mengisi namun penumpang sudah numpuk banyak. Khawatir Akas maju, akhirnya saya dekati 2 orang yang salah satunya berbaju seragam NNR lama. Mencoba mengakrabkan suasana, saya ngobrol dengan beliau. “Belum mas.. sebentar lagi ada restu yang parkir, saya jam 1.” Melalui perbincangan dengan beliau, ternyata NNR ini pakai trayek Madura-Ponorogo. Tapi malam ini, bis cadangan yang dipakainya, karena bis aslinya sedang dibengkel. Dan tebakan saya meleset sedikit, bis ini pakai mesin Mitsubishi Fighter.

23.58, Restu “Maduratno” parkir mengisi shelter Keberangkatan, penumpang langsung menyerbunya. Akas juga masuk shelter parkir dibelakangnya.

Minggu, 25 Agustus 2013

Dari Dalam Akas NNR Ponorogo

Dari Dalam Akas NNR Ponorogo

Saya masuk kabin yang sudah tak menarik untuk dipandang lagi. Karat di mana-mana, tak ada AC, lampu interior sederhana layaknya bis lawas. Saya ambil seat terdepan dibelakang kernet yang lain daripada yang lain. Seat untuk satu orang, sementar dibelakangnya berkombinasi 2 dan dikanan 3. Lebih lebar tentunya, Hehe.. beruntung jadi penumpang “super ekonomi”.

00.20, Restu “Maduratno” berangkat. 30 menit kemudian, Akas menyusul berangkat membawa penumpang 80%..

Sepanjang, akas masih berjalan santai tanpa keburu.Nyeser penumpang juga masih dilakukan. Mungkin karena terlalu santai, Sugeng Rahayu 7003 mendahuluinya dengan gampang. Masuk krian, “ono opo iki? (ada apa ini)”, penasaran sang kernet melihat keramaian didepan. Akas mendekat dan berhenti, sungguh tak pantas dilihat, balapan liar tengah digelar oleh anak-anak yang masih seumuran SMP hingga SMA ini. Tanpa sungkan, mereka menghentikan semua kendaraan yang ada hanya untuk balapan unjuk popularitas diantara satu gengnya. “Parah arek jaman saiki..”, memelas pak sopir berkata demikian. Benar memang demikian..

02.01, trowulan, dari kejauhan terlihat armada SG dikejar oleh kendaraan dengan 6 lampu mayang, tapi bukan truk. “Suuuuiiiiing…..”, suara nyaring terdengar saat kress dengannya. Tak asing, dialah Mila Dona Doni Keberangkatan dari Jogja.. Mila Pelari yang sudah terkenal dan fenomenal ..

02.20, trek lurus di Perak, irama mesin mulai naik. Antrian kendaraan dilalui dengan bertahap. Sopir mulai pasang rpm tinggi. Sudah cukup nyesernya, terlihat penumpang melambai namun tak dihiraukan. Gaya khas para sopir senior Akas. Nyaris samar saat pindah gigi, tak ada hentakan sama sekali, benar-benar halus. Fighter dipacu sekencang-kencangnya. Suspensi yang keras membuat body bis yang tua ini bergetar keras. Pak sopir tampak tak menghiraukan, gas tetap diinjak dalam-dalam.

02.34, Bra’an Kertosono. Beberapa penumpang turun..

Masuk kawasan Nganjuk. Mayangsari Pariwisata tengah menari didepan melewati kendaraan kecil dengan sein kanan berkedip cepat. Akas mendekat, ikut dibelakangnya. Tak mau kalah, Mayangsari berlari lebih kencang. Sempat saya dibuat penasaran, pakai mesin apa dia. RK turbo masih bukan. Mercedes Benz mungkin, tapi tipe berapa. Julur depan terlihat pendek. Intercooler tentu bukan, asap nyaris tak mengepul. Apa ini yang disebut 1518 XBC, Hehe.. Entahlah saya bukan ahli menebak.

Belum sempat ngeblong si Mayangsari, Akas masuk terminal Nganjuk. Ngetem 15 menit, lumayan banyak penumpang terangkut.

Keluar terminal bersama Mira ATB, belum mepet, Akas kalah awalan. Terhenti oleh lampu merah, tertinggal 35 detik. Saradan, Akas berhasil menempel Mira yang sempat terhenti oleh penumpang turun. Caruban, Mira berhasil diasapi oleh Akas. Tak beradu mesin, hanya saja Mira kurang berani dan ragu-ragu saat menghadapi  rombongan truk gandeng. Mungkin gereget, fighter sampai mbenggung dan ban kanan turun aspal. Terbebas duluan dari 2 truk gandeng meski harus membuat 2 mobil pribadi turun aspal.

Masuk terminal Madiun bareng dengan Sugeng Rahayu. Hanya menurunkan 1 penumpang, langsung berangkat. Perjalanan 30 menit kemudian saya gunakan tidur sejenak karena sudah tak kuat mata mulai perih.

04.43, Alhamdulillah sampai terminal Seloaji Ponorogo.

Akas NNR tiba di Seloaji

Akas NNR tiba di Seloaji

Langit masih gelap, cepat-cepat saya mandi dan wudhu lanjut tunaikan sholat shubuh di musollah.

Usai sholat, saya berjalan mengitari terminal seloaji. Matahari mulai menampakkan cahaya merahnya. Indahnya Sunrise di Ponorogo ditemani armada Gunung Harta dan Laju Prima yang tengah tidur. Langit mulai terang, saya putuskan untuk sarapan lebih dulu sebelum balik lagi ke Malang. Sebungkus nasi pecel saya beli dari pedagang-pedagang didepan shelter Keberangkatan bis. Bukan untuk dibungkus dibawa pulang, tapi memang sudah dibungkus duluan oleh pedagang. Istilahnya 1 paket, yang kemudian disediakan piring untuk dimakan langsung. Lauk pauk tinggal pilih.. Unik.. Hehe.. Banyak para kru bis yang juga sarapan disitu. Alhamdulillah, perut sudah kenyang dengan uang 5000 rupiah. Tak perlu mewah.

Untuk perjalanan balik, rencana saya ingin ikut si Jaya Kuning, Rossimania. Yang juga menurut teman-teman juga banter.  06.43, Akas NNR yang tadi saya naiki sudah kembali berangkat menuju Surabaya. Pak kernet melambaikan tangan kepada saya yang tengah mengamati bisnya dari kejauhan. Saya balas dengan anggukan kepala seraya senyum. Semoga selamat sampai tujuan..

Tak lama setelah si Akas berangkat, Aneka Jaya ATB datang mengisi shelter Keberangkatan Surabaya.

Aneka Jaya Pacitan-Surabaya

Aneka Jaya Pacitan-Surabaya

Bimbang mulai mendatangi, awalnya ingin naik Jaya Kuning, ini malah godaan lain datang. Sesaat saya bulatkan keputusan dalam hati, “Masa’ naik Mitsubishi lagi, ikut RK8 saja ah..”.

[Etape II Ponorogo-Surabaya]

Pukul 07.15, Aneka Jaya berangkat meninggalkan Seloaji setelah 5 menit ngetem di jalur keluar.  Jalur setelah seloaji ini favorit saya, jalurnya halus agak sempit namun sepi, RK8 dipacu lumayan kencang. Kanan kiri dihiasi oleh persawahan hijau. Sejuknya nuansa pedesaan terasa.

Masuk kabupaten madiun, Aneka Jaya ambil kiri di salah satu persimpangan. Lewat ringroad madiun, hingga penumpang yang hendak turun terminal madiun diturunkan dipertigaan setelah ringroad. Aneka ambil kiri lanjut perjalanan. Mata saya mulai merem dibuai nyamannya Hino RK8, banter dan empuk.. Ditambah AC yang masih dingin dan lagu “teluk bayur”  turut mengiringi.

08.51, suara para pedagang asongan berhasil membangunkan saya. Aneka Jaya sudah di dalam terminal Nganjuk. Full seat, aneka berangkat lagi. Masuk saradan, bertemu Mira Inspiro S 7161 US yang tadi berangkat lebih dahulu dari terminal Nganjuk. Tempel, drag 5 detik, Mira ATB akhirnya lewat. Wajar, tenaga memang lebih besar Aneka Jaya ketimbang Mira yang pakai AK8.

Terminal Jombang, terlihat Akas NNR yang tadi berangkat lebih awal 30 menitan. Waaaw.. kesusul ternyata. Sebentar… mana si Jaya ATB, yang tadi juga berangkat lebih awal. Apa sudah kesalip juga? Mungkin kena di madiun saat Aneka Jaya tidak masuk terminal, atau ketika saya tidur. Percaya joss.. Akas langsung mengepulkan asap setelah menyadari kedatangan Aneka Jaya. Dimulai dari sini, Akas dan Aneka Jaya mulai saling kejar. Ditengah antrian panjang kendaraan terlihat Rosalia Indah terjepit, Akas dan Aneka Jaya terus ambil jalur kanan. Mojoagung, Akas dapat poin, dan membuatnya tertinggal.

11.00, mendekati terminal Mojokerto, Pelita Indah Discovery tampak berhenti dipersimpangan. Aneka Jaya berhenti dibelakangnya. Lampu hijau menyala, Pelita Indah belok kanan, Aneka lurus tanda tidak masuk terminal.

Krian, sesaat Aneka Jaya mengisi bahan bakar. Akas NNR disusul Pelita Indah kembali didepan. Meski setelah itu Pelita Indah kena blong lagi. Bypass, sms masuk menjadi awal perubahan rencana saya untuk pulang ke Malang. “Ayo ikut aku nanti nemenin nyetir Jombang-Jember..”. Dialah mas A.B (inisial). Sepertinya rencana dari bungur lanjut Malang harus di rubah balik(lagi) ke Jombang.

[Etape III Surabaya-Jombang]

11.45, Aneka Jaya tiba di terminal Purabaya. Sambil memantapkan niatan, saya berjalan tegas menuju shelter yang sedang di isi Sugeng Rahayu Discovery. Yaa.. dialah armada milik Selamat Group jurusan Surabaya-Madiun-Solo-Jogja PP. Hanya 7 menitan parkir, berangkatlah Sugeng Rahayu ini. PO yang berkarakter kuat hingga saat ini. Untuk itu saya pilih untuk tunggangan menuju Jombang. AC yang dingin, seat dibuat landai, membuat saya tertidur lelap.

13.06, masuk Terminal Kertajaya Mojokerto, bangun dari tidur. Takut kebablas.. Saya tegakkan badan memandangi jalanan didepan. Saat melihat-lihat bagian interior si Discovery ini, saya baru menyadari bahwa ini adalah bis Sugeng Rahayu yang dulu mengantar saya dari Madiun ke Surabaya [Sekedar Memenuhi Hasrat]. Sugeng Rahayu dengan nopol W 7396 UY. Hanya saja beda kru yang sedang membawanya, baik sopir maupun kondektur, untuk kernet saya agak lupa.

14.11, masuk Terminal Jombang, beberapa turun, namun hanya 1 yang naik. Sugeng Rahayu langsung berangkat. “Jombang lama… jombang lama.. persiapan..” peringatan bagi saya untuk siap-siap turun.

10 menit menunggu, dijemputlah saya oleh Mas A.B dengan Suzuki Ertiga-nya.

“Eh, nanti ga bawa ini lo, bawa odong-odong ya..”
“L300 mas?”, “iyaa..” , “Ah.. ga masalah mas.. Malah enak odong-odong, jadi musuh ga bakal ngira kalau diblong L300.. Hehe..”, ya.. kira-kira begitu. Mas A.B ini adalah JokoMania, siapakah Joko yang dimaksud? Joko adalah salah satu sopir Akas Asri Jogja-B.wangi yang benar-benar handal (dalam arti sess dan halus). Namun sayang, Pak Joko adalah sopir yang rea-reo (suka berpindah armada, jadi sulit dipastikan).

[Etape IV Jombang-Jember]

Perjalanan Jombang-Jember kami putuskan untuk jalan malam hari menunggu lalu lintas tak terlalu ramai. Untuk perjalanan ini, saya tak mau banyak bercerita. Intinya, 21.13, kami berangkat dari Jombang. Sungguh disayangkan solar kali ini dijatah.

“Ga bisa top speed nih..”, “Hahaha.. nyantai wes mas..”.

Seperti yang saya bilang tadi, mas A.B yang JokoMania ini tampaknya sudah tertular kehandalan mengemudi pak Joko. Pernah saya ikut Jombang-Probolinggo bawa L300 waktu tempuh pas 2 jam saja.

L300 tunggangan Jombang-Jember

L300 tunggangan Jombang-Jember

Gak percaya?? Harus percaya.. Sudah saya buktikan. Namun dia masih bilang itu belum seberapa. Hehe..

Senin, 26 Agustus 2013

02.33, kami tiba di Jember. 5 jam 20 menit, terlalu lama karena solar di jatah. It’s oke.. Yang penting kami sampai di Jember dengan selamat. Alhamdulillah..

[Etape V Jember-Malang]

Awalnya, kami berdua (saya dan Mas A.B) akan berangkat ke Malang bareng. Akan tetapi, ada sedikit masalah yang harus mas A.B selesaikan, jadi saya kembali ke kota Malang sendiri nih. Diantar saya ke Terminal TawangAlun pukul 12.20 siang hari. Memasuki ruang tunggu terminal Tawangalun, saya terhenyak sejenak. Masih banyak ternyata orang yang menghiraukan aturan. Mereka lah yang merokok yang tempat umum. Padahal sudah jelas tercantum larangan di Undang-Undang mengenai sanksinya. Ditambah lagi oleh poster dari kami, BMC Tapal Kuda dan UPTD sendiri tempel di beberapa titik ruang tunggu akan larangan untuk merokok. Itu bukan hiasan pak, itu aturan..

13.15, saya berangkat meninggalkan Jember dengan naik Patas Sandy Putra. Sengaja saya pilih Patas untuk berlindung dari panasnya udara siang itu.

Mulai dari keluar terminal sampai tanggul bis ini nyeser penumpang dipinggir jalan. Hingga ada penumpang yang tampaknnya kritis, “Ini patas apa bomel sih..”, bergumamnya dia sendiri.

Interior Patas Sandy Putra

Interior Patas Sandy Putra

Patas dengan mesin AK8 ini cukup dingin udara AC yang dikeluarkannya. Hanya kekurangan sedikit pada interiornya, beberapa seat yang rusak pada reclining dan penyangga lengan ada yang patah. Penumpang yang duduk pas didepan saya sepertinya sedang bad luck, dia duduk di seat yang rusak pada reclining nya, jadi saat menyandar seat tidak bisa menahan dan penumpang akan dibuat dalam posisi tidur. Sabar ya pak.. hehe

Lepas tanggul, trek lurus didepan. Hino AK dengan tenaga 215 hp ini dipacu sekencangnya. Beberapa kendaraan berhasil dilalui. Akas NNR bumel jurusan Malang yang berangkat lebih dulu mulai didekati. Tak lama mendapat dorongan, Akas NNR mengedipkan sein kiri, Sandy Putra goyang kanan mendahuluinya. Bukan mengalah, hanya menambah jumlah penumpang.

Jatiroto, Sandy Putra kembali menaiikan penumpang. Saya lirik penumpang kritis tadi, dengan menghela nafas panjang, dia tampak tak puas naik si Sandy.

14.34, Terminal Wonorejo. 1 orang penumpang dinaikkan lagi. Masuk Klakah, lalu lintas mulai padat merayap. Laju kendaraan jadi tidak optimal. Desa Malasan, AG bumel jurusan malang terlihat dari kejauhan. Juga tengah terjepit diantrian panjang, kadang menengok mencoba ngeblong kendaraan didepannya. Seakan bosan berjalan pelan, lepas ‘embong miring’ dikawasan Leces. Sandy keluar jalur, satu dua tiga empat kendaraan berhasil dilalui dijalur yang menanjak. Syukur tak ada kendaraan arah berlawanan. AG sudah tak tampak lagi karena lepas dari antrian lebih dulu.

Pasar Leces, lalu lintas kembali tersendat. Tak sadar saya pribadi tersenyum, biasanya saya turun ya di sini. Ini kok malah bablas ga turun. Hehe..

Perempatan Wonoasih, antrian panjang terjadi akibat lampu merah. Sandy tak mau berlama-lama, ambil kanan namun tak menerobos lampu merah. AG yang sedang terjepit akhirnya kena juga..

15.33, Selamat Datang di Kota Probolinggo. Tanda bahwa terminal Bayuangga sudah dekat. Tempat transit saya selanjutnya. Turun dari Sandy, langsung saya naik si Patas Akas NNR.

Patas Akas NNR Malang

Patas Akas NNR Malang

Salah satu Patas yang belum saya naiki diantara semua Patas Malang-an.

16.05, Patas Akas NNR berangkat. Lalu lintas pantura tak terlalu ramai, mungkin karena jalannya yang sudah lebar. Meski beberapa kali terdapat rombongan truk peti kemas dan beberapa kendaraan besar lainnya menyebabkan antrian panjang dibelakangnya.

Cukup nyaman bis Patas NNR ini, dengan mesin Mercedes Benz OH 1518 lawas yang masih terawat. Suspensi tentu empuk, tak ada getaran yang menimbulkan bunyi berarti di bagian interior. Semuanya antep dan terpasang erat. Seat juga tampaknya baru diganti, meski bukan buatan Aldilla ataupun HAI. For all, sip lah.. Perawatan armada yang sudah lawas ini lumayan bagus. Hanya satu minusnya, suara mesin AC mulai terdengar dan sedikit mengganggu. Akan tetapi bagi anda yang capek dan ingin tidur, dijamin nyenyak di dalam bis ini tanpa menghiraukan suara AC tersebut.

16.48, Patas NNR ini lewat lingkar selatan Pasuruan. Tumben, biasanya bis-bis ogah lewat sini gara-gara jalannya yang rusak berat. Suspensi bis benar-benar kerja keras saat melalui jalan ini. Mungkin faktor waktu tempuh jadi pertimbangan, sehingga Patas NNR tetap melewatinya.

Pertigaan purwosari. Matahari sudah terbenam, langit berangsur gelap, lampu kabin bis akhirnya dinyalakan.

18.11, Alhamdulillah.. tiba saya di kota Malang. Turun di depan kantor Taspen saya dijemput oleh seorang teman.

Sekali lagi, Alhamdulillah.. usai sudah agenda touring ini. Terima kasih saya ucapkan kepada Allah SWT, kedua orang tua, mas A.B, seluruh kru bis Hafana, Akas NNR Ponorogo, Aneka Jaya, Sugeng Rahayu, Sandy Putra, Akas NNR Malang, dan semua pihak yang telah membantu saya baik secara langsung maupun tidak.

Terima kasih juga ingin saya ucapkan kepada anda para pembaca caper ini. Panjang sekali yaa.. Hehe.. Saya juga tidak mengira kalau touring ini akan berakhir panjang. Mohon maaf apabila ada kata-kata yang tidak berkenan, kesempurnaan hanya milik Tuhan Yang Maha Esa.

Sampai jumpa di agenda touring selanjutnya. Salam Sejatinipun Seduluran.
Saptanu Yuniar BMC, TPK006.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

About Saptanu

This isn't about The Destination, but it's all about The Glory of Going There.

Posted on 27 Agustus 2013, in Blog Area. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Monggo kemukakan saran, kritik dan pertanyaan jika ada.. [Dimohon disesuaikan dengan konten yang tercantum]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s