Mungkin gara-gara “keluar jalur” [Part I]

Jum’at, 24 Mei 2013

Hujan rintik tak henti-hentinya mengguyur kota Malang sore itu. Jam tangan sudah menunjuk pukul 17.03, tapi asisten dosen saat itu belum juga mengakhiri praktikum. Gelisah mulai melanda, mengingat janji berangkat touring bersama teman, pukul 18.00 saya harus sudah di Arjosari. Sampai akhirnya pukul 17.15 praktikum selesai, bergegas saya keluar kelas untuk segera packing dan berangkat menuju terminal Arjosari. Pukul 19.18, sms masuk, “aku di pintu keluar.” “Ga enakan naik dari dalam a mas?”, “Yawess dari dalem..”. Memasuki ruang tunggu terminal Arjosari, kami berdua bertemu. Mas Adi, begitulah saya memanggilnya. Esok harinya dia akan ada acara Waisak-an di Candi Borobudur, kebetulan mungkin tak ada teman, akhirnya saya diajaknya untuk ikut sekalian touring bersama.

19.35, berangkat kami berdua menuju Surabaya menunggangi Restu ATB, atau lebih akrab dipanggil si Panda. Belum 500 meter dari pintu keluar Arjosari, antrian kendaraan sudah berhasil membuat kemacetan panjang. Tak heran, besok adalah hari libur nasional peringatan hari Waisak. 20 menit, si Panda masih terjebak padatnya lalin. Beberapa personil polisi tampak berusaha memandu para pengendara dari bawah flyover pertigaan.

On board Restu ATB

On board Restu ATB

Pukul 8 lebih, akhirnya keluar juga dari kemacetan. Di Pertigaan karanglo, sudah banyak penumpang yang menanti, panda menepi, semua masuk hingga isi kabin penuh sesak. Sepanjang perjalanan, si Panda tak lepas beriringan dengan Malang Indah, Rosalia Indah dan Handoyo. Layaknya rombongan, terkadang Panda memimpin didepan, namun terkadang posisi urutan berubah saat Panda ngambil penumpang di pinggir jalan. Pertigaan Purwosari, Malang indah ambil jalur kanan menuju arah Probolinggo-Situbondo. Handoyo, Rosin, dan Panda belok kekiri arah Pandaan. Sukorejo, banyaknya penumpang yang naik turun membuat panda ketinggalan iringan, Handoyo dan Rosin sudah tak terlihat lagi didepan. 20.50, Panda tak masuk terminal Pandaan, penumpang diturunkan diseberang jalan. Lepas apollo, lalu lintas malah lancar tak ada hambatan, jauh dari perkiraan.

21.45, Panda masuk terminal Purabaya (Bungurasih), semua penumpang turun termasuk saya dan mas Adi. Suasana Purabaya malam itu sungguh keren, layaknya lautan manusia, calon penumpang berbagai jurusan tumpah ruah melebihi keramaian pasar atau mall sekalipun. Sambil berjalan masuk area terminal lewat jalur masuk bis, kami berdua dibuat tercengang dengan ramainya Purabaya malam itu. Untuk jalur Solo – Jogja ekonomi, sudah tak mungkin kami naik bis tanpa berdesakan, tampak setiap armada Mira dan Selamat Group yang parkir bahkan dalam keadaan mesin mati sudah di tunggui banyak manusia disisi-sisi badan bisnya berharap mendapat tempat duduk.

Lautan Manusia di Purabaya

Lautan Manusia di Purabaya

Sedangkan si Cepat EKA sendiri, hanya 1 atau 2 yang terlihat. Pasti banyak yang sudah full dari garasi dan langsung berangkat. Sekalipun ada yang masuk terminal, sudah terisi beberapa penumpang di dalam kabin, membuat penumpang yang tumpah ruah ini sedikit yang terangkut. Bingung mulai menghampiri kami, gimana kalau begini, ga bakal dapat bis. Tak ingin dibuat mati berdiri, kami berdua mencari warung untuk santai sejenak dan mengisi perut persiapan perjalanan. Saya pesan makan sedangkan mas Adi hanya minum teh hangat. Dalam perbincangan di warung itu mas Adi menawarkan gimana kalau ‘muter’ ke Semarang dulu. Memang intensitas penumpang semarang tak sebanyak jurusan Solo-Jogja.

22.25, keluar dari warung kami mencoba berjalan mengelilingi Purabaya dan berharap suasana sudah tak separah tadi. Ternyata tak jauh berbeda atau mungkin tak berubah sekalipun. Benar-benar lautan manusia, sampai bus yang tersedia tak kuasa menampung. Terbukti dengan sepinya shelter keberangkatan dari antrian bis yang biasa terlihat, bahkan mayoritas kosong tak ada bis yang mengisi shelter. Hanya dipenuhi sekumpulan manusia. Kereen… Keputusan kami untuk ‘muter’ ke Semarang semakin kuat. Akhirnya kami berdua berjalan menuju parkiran tempat biasa bis Semarang tidur. Untuk ekonomi, ada Widji, Jaya Utama, akan tetapi tak ada gerak-gerik untuk bangun dari tidur. Patas, ada 1 unit Galaxy EXL Jaya Utama berjalan pelan sambil dikejar-kejar penumpang disampingnya. Beberapa mengetok kaca pintu depan berharap bis berhenti dan dibukakan pintu, namun sopir tak menghiraukan dan bis terus berjalan pelan. Lewat si Galaxy, kru Patas Indonesia membuka pintu untuk penumpang. “Ayo ayo naik ini…”, mas Adi menepuk pundak saya, sedikit berdesakan kami masuk. Mas Adi duduk di belakang, sedangkan saya duduk dihot seat. Beruntung saya mendapatkannya, karena 3 dari 4 seat terdepan sudah ada yang pesan. Semua penumpang naik, Patas Indonesia bergerak menuju shelter keberangkatan Patas Semarang. Di sana terlihat si Galaxy telah siap-siap berangkat karena isi kabin mungkin sudah full. Patas Indonesia masuk, semua penumpang mendekat badan bis. Setelah pintu di buka oleh pak kondektur, semua berebut masuk. Namun beberapa ada yang kembali turun karena isi kabin sudah full memang. Meski juga ada yang rela berdiri, dan 3 orang duduk masing-masing di kursi kernet dan diatas penampung botol coca colla.

Pukul 23.15, Patas terakhir yang ke Semarang ini bergerak meninggalkan Surabaya membawa 56 penumpang, lebih dari kapasitas penuh yang sebenarnya. Memasuki tol gresik, pak sopir membawa bis dengan santai, tak ada kesan keburu. Bis melaju dengan kecepatan sekitar 80-85 km/jam. Hino RK8 tahun 2007-2008 tak terlalu dipaksa kencang. Body Proteus dari Laksana yang agak berumur ini sudah terdengar suara “tikus”nya, nyit nyit nyit…. saat bis berpindah jalur, ataupun berbelok. Dan juga suara khas suspensi turut menghiasi perjalanan malam itu. Suasana tol sepi, hanya ada beberapa truk-truk peti kemas dan mobil pribadi.

Keluar terminal Bunder-Gresik, Patas Indonesia bertemu 2 unit Zentrum dan mulai beriringan. Patas Indonesia ini  memang lihai saat lalu lintas padat, pak sopir berkali-kali membuka jalur di arah berlawanan. Akan tetapi saat lalu lintas sepi dan jalan lurus, Rombongan Zentrum kembali memimpin dan terkadang hilang dari pandangan.

Sabtu, 25 Mei 2013

Pukul 00.15, “Selamat Datang di Kota Perdagangan dan Jasa”. Macet lagi-lagi melanda, sepanjang 1 km bis berjalan pelan, padat merayap. Ternyata ada pengaspalan jalan raya yang menyebabkannya. 00.40, lalu lintas kembali terpecah dan kemacetanpun berlalu.

Pukul 01.04, masuk kota Babat.

Pukul 01.35, Selamat datang di kota Tuban. Kedua mata saya tertarik seperti magnet melihat 2 sosok bis putih dari kejauhan yang berhenti di pinggir jalan. Serasa tak asing. Ternyata memang benar, 2 sosok putih itu ada Rombongan Akas Asri yang sedang istirahat dipinggiran pantura. Disusul oleh truk yang sedang menderek 1 unit bus dari arah berlawanan. Juga Akas Asri Pariwisata yang diderek tersebut.

Pukul 2.06, Patas Indonesia memperlambat lajunya, sein kanan berkedip, lalu lintas padat dari arah berlawanan membuat bis lumayan lama berhenti ditengah jalan. Yaa.. bis akan masuk dan parkir di RM. Rasa Utama – Tuban. Di sana juga ada 2 unit Jaya Utama yang ke Semarang dan 1 unit ke arah Surabaya. Usai parkir, penumpang dipersilahkan turun untuk istirahat dan mendapatkan servis makan di sini. Sekitar 30 menit waktu makan dan istirahat, penumpang dipersilahkan naik kembali dan bis lanjut berangkat.  1 km dari RM Rasa Utama, aspal terlihat basah disusul oleh titik-titik air yang mulai membasahi kaca depan bis. Wiper bergerak karena hujan semakin deras mengguyur pantura malam itu. Rasa kantuk mulai menghampiri mata, mungkin efek karena perut sudah terisi penuh. Terpejamlah akhirnya kedua mata. 03.40, bis kembali terjebak macet, kali ini entahlah disebabkan oleh apa, karena saya juga tak begitu tertarik mencari tahu. Mencoba kembali memejamkan mata. Namun tak lama, saat klakson Patas Indonesia di pencet berkali-kali oleh pak sopir, saya pun terbangun. Goyangan kali ini terasa berbeda, bis sedikit mendapat tekanan daripada awal berangkat tadi. Dari kaca spion sopir, saya lihat seperti ada 1 unit bis yang ‘mendorong’ Patas Indonesia ini. Kadang menjauh tak terlihat, tapi juga sering mepet dan menengok berusaha mendahului. Layaknya orang gengsi, Patas Indonesia tak mau kalah dan mencoba berlari lebih kencang. Kantuk akhirnya hilang, badan agak saya tegakkan dengan tujuan ingin tahu kemampuan si Proteus ini. Ditambah pemandangan yang lumayan indah saat bis melewati jalur menikung naik turun pas dipinggir bibir pantai. Sayang sekali langit masih gelap, tak banyak yang bisa dilihat, hanya deburan ombak yang memantulkan sinar bulan.

Masuk Lasem, 2 penumpang turun, akhirnya bis yang dari tadi dibelakang sempat terlibat kejar-kejaran berhasil mendahului Patas Indonesia. Dialah Pahala Kencana dengan body JetBusnya. Belum selesai menurunkan penumpang, menyusul Sari Indah jurusan Jakarta turut mendahului.

Masuk Alun-Alun Pati

Masuk Alun-Alun Pati

Pukul 05.30, masuk kota Pati. Tiba-tiba 2 unit Zentrum mendahului dari kanan. Rupanya rombongan Zentrum tadi yang bertemu dari terminal Bunder.

Pukul 06.20, kota Kudus. Di sini Patas Indonesia mulai berpapasan dengan bis-bis raja Pantura, Bejeu, Haryanto, Nusantara yang rupanya baru datang dari Jakarta.

Pukul 07.06, Demak.

Pukul 07.25, Alhamdulillah telah sampai transit pertama, bis masuk terminal Terboyo – Semarang. Sebuah terminal yang tak jarang menjadi korban banjir rob.

Patas Indonesia Proteus Hino RK8

Patas Indonesia Proteus Hino RK8

Usai turun dari bis, saya dan mas Adi mencari kamar mandi umum di sekitar terminal. Sekitar 40 menit kemudian, usai mandi dll, kami berdua melihat-lihat sekeliling terminal sambil mengabadikan momen terminal Terboyo saat itu ke dalam kamera. Cukup lama kami berfoto-foto dan ‘menelanjangi’ setiap bis yang ada di sana waktu itu. Di parkiran keberangkatan Jogja, kami tak sengaja melihat bis ekonomi yang ber-AC. Armada yang jarang, mengingat sebagian besar armada ekonomi Jogja-Semarang adalah non-AC. Bis yang bertuliskan “Selamet Ikha Jaya” dibadannya tersebut kemudian mendapat giliran parkir. Kami naik ke dalam bis tersebut.

Selamet Ikha Jaya

Selamet Ikha Jaya

Usai mendapat tempat duduk, tangan saya rogoh ke atas kabin untuk mengarahkan AC tepat ke badan karena temperatur di luar memang mulai panas. Tak lebih dari 5 menit berada di dalam bis, tiba-tiba mas Adi mengajak untuk turun dan naik Patas saja. Tak tahan dengan panasnya, belum terbayang nanti selama perjalanan bagaimana lagi. Bis ini memang ber-AC, akan tetapi umur AC yang sudah tua dan mungkin tak diisi freonnya sehingga hanya terasa seperti angin yang meniup, tak dingin sama sekali. Kami berduapun turun, beruntung bis belum berangkat. Akan tetapi, Patas yang menuju Jogja masih belum ada yang parkir. Hanya ada 1 unit Ramayana Patas yang parkir di tengah terminal dan sepertinya belum waktunya untuk beroperasi.

30 menit menunggu, belum juga ada bis.

Pukul 9.15, hampir 1 jam menunggu, belum juga ada yang datang bis Patas Jogja. Penumpang semakin banyak numpuk.

Pukul 9.30, mulai terasa bosan untuk menunggu dan menunggu, kami berdua mulai memutar otak lagi. Mas Adi lagi-lagi mengusulkan untuk naik bis jurusan solo dan oper di bawen nantinya. Baiklah… saya setuju saja.. Saat itu, jurusan solo sedang parkir bis Raya Discovery.

PO. Raya Solo-Semarang

PO. Raya Solo-Semarang

Beruntung kami mendapatkan yang seat 2-2. 15 menit kemudian bis berangkat meninggalkan terminal Terboyo. Di halte-halte luar terminal, banyak penumpang yang terangkut, hingga ada beberapa yang berdiri.

Didalam kabin PO. Raya seat 2-2

Didalam kabin PO. Raya seat 2-2

Masuk jalan tol, bis dengan mesin Hino AK8 dipacu sedemikian kencang oleh pak sopir. Meski pada saat ditanjakan bis seperti kehabisan nafas. Maklum kabin terisi banyak penumpang. “Wah.. ini masih belum tanjakan setelah karoseri Laksana, di sana lebih nanjak, ga tau bagaimana nanti..”, ujar mas Adi kepada saya sehingga membuat penasaran. Sampai di Ungaran, Raya terjebak kemacetan tengah kota. Seolah tak ingin bad mood mendatangi, akhirnya saya coba pejamkan mata dan istirahat sejenak.

Pukul 11.11, belum juga lepas dari kemacetan. Beruntung tadi tak naik yang non-AC, kalau iya mungkin kami berdua akan terpanggang kepanasan.

Pukul 11.30an, Raya masuk terminal Bawen, kami berdua turun. Makan siang akhirnya kami putuskan di sini saja. Usai makan, kami menuju shelter keberangkatan. Bis ekonomi jurusan Jogja adalah tujuan kami berikutnya. Bis pertama datang Trisulatama bermesin mercy OF, kabin terlihat penuh sesak. Kami urungkan naik dan menunggu bis belakangnya. Selanjutnya juga Trisulatama, tak jauh berbeda, tak ada tempat duduk yang kosong sepertinya. Begitu pula seterusnya, bis selalu full penumpang. Sayang sekali, saat ada Ramayana yang sedikit longgar isinya malah bablas lurus, gak masuk terminal Bawen.

1 jam menunggu, kami berpindah tempat menunggu di jalur masuk terminal. Jaga-jaga kalau ada bis yang bablas lagi. Matahari tepat diatas kepala, panas mulai terasa dikulit. Benar-benar touring yang berat, seharusnya jam segini mas Adi sudah ada di Borobudur dan saya sudah puas hunting terminal giwangan. Ini malah masih kesasar di Bawen. Setelah dievaluasi, di setiap terminal, timing kita serasa tidak tepat. Selalu saja kesulitan dapat bis (yang pas). Mulai dari Bungurasih, Terboyo, sekarang Bawen.

Pukul 13.30, terpaksa kami putuskan untuk naik bis apapun nanti yang datang walau berdesakan daripada benar-benar tersesat kemalaman di Bawen nantinya. Bis Ramayana body Prestise bermesin Hino AK lawas menjadi tunggangan kami menuju Magelang-Jogja. Tak mau berdiri, saya dan mas Adi duduk di atas tutup kap mesin bis.

Didalam kabin Ramayana

Didalam kabin Ramayana

Namun selama perjalanan, banyak penumpang yang turun sehingga kami mendapatkan tempat duduk di tengah.

Pukul 14.46, masuk terminal Magelang. Hampir semua penumpang turun bis, tinggal 5 orang tersisa. Pak sopir dan kernet turun untuk berisitirahat. 20 menit ngetem, bis lanjut berangkat menuju Jogja. Di pertigaan menuju kawasan Candi Borobudur, mas Adi turun sedangkan saya lanjut bablas menuju terminal Giwangan – Jogja. Sepanjang perjalanan Magelang-Jogja, hawa dingin menyelimuti, gerimis dan terkadang juga deras terus mengguyur. Masuk Sleman, tak sengaja saya terlibat percakapan dengan penumpang lain yang sepertinya juga suka dengan bis. Dia menyebut namanya adalah Tommy, asli Magelang dan ingin touring ke Madiun untuk sekedar putar balik. Persis dengan touring saya kemarin yang ke madiun juga, akan tetapi start dari Malang. Cukup lama kami saling berbincang hingga sampai di terminal Giwangan pukul 16.48. Terucap dalam hati, Alhamdulillah ya Allah.. inilah tempat tujuanku dari awal. Akhirnya sampai dengan selamat. Meski waktunya tak sesuai harapan, dan  tentu tak akan hunting lama karena matahari akan terbenam sebentar lagi.

Bersambung . . . . Next??

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

About Saptanu

This isn't about The Destination, but it's all about The Glory of Going There.

Posted on 27 Mei 2013, in Blog Area. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

Monggo kemukakan saran, kritik dan pertanyaan jika ada.. [Dimohon disesuaikan dengan konten yang tercantum]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s