Kediri – Malang 9 Jam

Sebuah cerita perjalanan dari Kota Kediri menuju Kota Malang yang cukup ‘berat’ bagi saya, ingin saya bagi dengan para pembaca semua.

Tanggal 10-11-2012, berawal dari Terminal Tamanan-Kediri, pukul 14.36, saya mulai berkemas diri dan menunggu kedatangan bis yang akan mengantar saya ke Surabaya.

14.40, Pelita Indah non-AC dari arah Trenggalek yang akan menuju Surabaya masuk ke Terminal Tamanan, belum sempat mengambil langkah kaki, saya urungkan niat untuk naik si Pelita Indah tersebut. Kondisi bus yang sudah full dan banyak yang upacara didalam kabin. Selanjutnya, di belakang Pelita Indah, ada Harapan Jaya ATB Sonic 3 yang tak jauh beda, kondisi kabin sudah penuh sesak penumpang. Begitu pula bis-bis ekonomi berikutnya juga penuh dengan penumpang. Sayang sekali, bis Jaya Baru (PRIMA) yang saat itu tidur didalam Terminal Tamanan tak ada tanda-tanda akan bangun.

Setengah jam lebih sudah, akhirnya bis Patas menjadi pilihan terakhir. Meski harapan untuk duduk di Hot Seat sudah pupus, semoga saja masih ada seat yang kosong. Pukul 15.20, datanglah Patas Harapan Jaya berbalut body Galaxy EXL dari Tentrem. Bergegas saya langsung masuk kabin si HarJay Patas yang berdapur pacu Hino AK tersebut. Seat berkombinasi 2-2 hampir seluruhnya penuh dengan penumpang dari Tulungagung, alhamdulillah di posisi belakang berdampingan dengan pintu darurat sebelah kanan masih kosong, sayapun merebahkan badan di seat hasil produk HAI tersebut. Tak lama parkir di lajur, si HarJay Patas yang berkode lambung H255 ini langsung berangkat.

Jujur, ini pertama kali saya naik Patas Harapan Jaya. Bisa di akui pelayanan crew dan armada lumayan nyaman. Ditambah oleh driver yang begitu suka menjajaki jalan raya di sebelah kanan. Saya sendiri yang duduk dibelakang sebelah kanan, hanya sesekali saya melihat aspal jalan raya bagian kanan, selebihnya hanya tanah yang terlihat dari kaca samping. Joss gandoss lah.. Benar-benar suasana Patas sesungguhnya. Sekitar pukul 15.55, H255 sudah melewati pertigaan Kertosono. Tak menyesal menjadikan Patas sebagai pengantar perjalanan pulang. Kabin layaknya sebuah lemari es, namun tak meninggalkan konsep kenyamanannya, berhasil membuat saya terlelap berselimut jaket hitam.

“Yang jombang… jombang minal persiapan… “, begitulah mungkin suara kondektur yang tidak begitu lantang, tapi berhasil membangunkan saya dari tidur. Sambil melakukan pelemasan badan alias ngulet, saya tengok HP, jam menunjuk pukul 16.40. Beberapa penumpang yang turun Jombang, diturunkan didepan Terminal Jombang. si H255 melanjutkan perjalanan menuju Surabaya. Kembali terbawa sensasi goyang kanan goyang kiri.. Joss…

Sayaang, belum puas menikmati H255 yang begitu lihai di jalan raya ini, tiba-tiba tersendat di tengah kemacetan didaerah Peterongan Jombang. Proyek pembuatan fly over atau jalan layang tersebut justru mempersempit jalan dan membuat kemacetan yang cukup berarti dari kedua arah.

Lepas peterongan, pukul 17.09, Patas H255 kembali terjebak macet di bypass Mojokerto. Seluruh kendaraan arah Surabaya hampir tak bisa bergerak. Meski sudah ada beberapa yang turun aspal dan membuka jalur di bagian kanan, tak begitu membantu. Selang 30 menit berlalu, namun bis hanya berpindah sekitar 1 km, driver H255 ini akhirnya memutar otak, dan membanting setir keluar aspal. H255 beliau arahkan keluar jalan raya, istilahnya kali ini Patas mblusuk desa. Saya kurang paham daerah yang dilalui H255 ini. Oleh karena banyak pula kendaraan yang turut melewati jalur desa ini, H255 kembali bergerak layaknya becak.

Pukul 18.37, masih ada di daerah Mojosari, H255 masih terjebak macet. Kabar mengatakan, kalau kemacetan ini disebabkan oleh diselenggaranya Gerak Jalan Mojokerto-Surabaya dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November. Sepertinya bukan hanya saya yang dibuat jenuh dengan kemacetan ini, hampir semua penumpang tampak gelisah, ada yang berdiri, ada yang hanya nongolkan kepala melihat suasana depan. Sudah menerobos desa masih kena macet, mencoba lewat tengah kota, macet kembali melanda.

Sudah 1 jam lebih, H255 masih belum menemukan celah keluar dari kemacetan. Tapi, driver tidak menyerah begitu saja untuk mengeluarkan bisnya dari kemacetan. Pukul 19.50, entah melewati daerah mana saja tadi, H255 tiba-tiba masuk daerah Tulangan-Sidoarjo. Lanjut selepas tulangan, H255 melewati daerah Pilang-Sidoarjo. H255 yang seharusnya masuk bungurasih sekitar pukul setengah 7, ini masih terdiam ditengah kemacetan. Bis seolah hanya berjalan 1 km per jam, diperkirakan jarak 500 meter ditempuh dengan waktu 30 menitan. Tak bisa disangkal, kondisi jalan yang sempit diisi oleh volume kendaraan yang begitu besar. Banyak kendaraan dari arah barat Mojokerto yang hendak ke Surabaya menghindari acara gerak jalan tersebut, dan semuanya bertemu di satu tempat, satu jalur, satu jalan yang sempit. Mantaap…

Pukul 20.48, H255 masuk daerah cemengkalang-Sidoarjo. Beberapa meter kedepan, sudah tampak jalan tol gempol-waru, namun jarak yang dekat tersebut baru bisa ditempuh dalam waktu 30 menit lebih. Pukul 21.20, akhirnya, H255 masuk pintu tol Sidoarjo berdampingan dengan Restu Panda ATB yang dari Ponorogo. Alhamdulillah… Syukur sudah terlepas dari kejenuhan. Driver H255 langsung menginjak gas dalam-dalam saat melintas tol.. Restu Panda ATB yang tadi sempat masuk pintu tol bareng, juga turut membuntuti di belakang.

Pukul 21.45, Patas H255 masuk Terminal Purabaya (Bungurasih).

Alhamdulillah, satu tahap perjalanan berakhir, lanjut rute perjalanan berikutnya. Kota Malang masih 85 km lagi dari Surabaya. Sambil mencari makanan kecil dan sebotol air mineral, saya mencoba melemaskan badan yang cukup kaku. Memang kondisi saya awalnya kurang begitu fit. Dari kejauhan, shelter bus jurusan Malang masih kosong, belum ada yang parkir. Tampak pula, shelter jurusan Madiun-Solo-Jogja yang dipenuhi penumpang sampai numpuk. Kemungkinan adanya keterlambatan armada dikarenakan kemacetan yang baru saja saya alami. P

ukul 22.03, tampak Restu ATB diikuti Restu non-AC mengisi shelter jurusan Surabaya-Malang. Mengambil langkah lemas, saya bangkit dari bangku ruang tunggu Purabaya dan berjalan menuju shelter. Sesampainya didepan shelter, langkah saya terhenti ketika datang di belakang shelter Akas Green ATB yang dari Ponorogo. Dengan pertimbangan beberapa faktor, salah satunya mungkin selera, saya putuskan untuk menunggu dan naik si AG Ponorogoan tersebut. Cukup lama kedua armada Restu didepan parkir, hingga pukul 22.40 giliran si AG kini mengisi shelter. Kondisi kabin yang kosong membuat hot seat akhirnya saya dapatkan. Si AG ini sepertinya juga mengalami keterlambatan disebabkan macet, seharusnya pukul 22.00, semua AG ponorgo-an sudah pada tidur di Terminal Arjosari.

Selang 10 menit, kabin Akas Green sudah dipenuhi penumpang, sampai -sampai juga ada yang berdiri.

22.51, AG meninggalkan bungurasih dengan langkah agresif. Saat melintasi tol arah gempol, masih terlihat beberapa armada Selamat Group, Mira, Mandala, Harapan Jaya, Pelita Indah, dll yang juga melintas tol Sidoarjo menuju arah Surabaya. Mereka semua mencari jalur alternatif menghindari kemacetan, adapula yang hingga tembus Japanan. Entah pukul berapa saya lupa, didaerah Pandaan, si AG bertemu dengan Lorena, AG pun menyusul di belakang Lorena. Tak ada perlawanan berarti dari Lorena 113 yang berdapur pacu Mercedes Benz OH series tersebut. Si AG kembali merajai jalan raya malam itu. AG Ponorogo-Malang memang terkenal dengan kelakuannya yang agresif di jalan raya.

Kembali mengucap, Alhamdulillah.. Saya sampai di Terminal Arjosari-Malang pukul 00.36 dini hari. Terima kasih kepada segenap pembaca yang sudah berkenan membaca cerita ini hingga habis. Mohon maaf apabila ada kata yang kurang berkenan di cerita yang kadang membingungkan untuk dipahami ini..😀 hehe..
Tak lupa terima kasih kepada crew Harapan Jaya dan Akas Green, serta seluruh pihak yang membantu saya hingga saya berhasil sampai kembali di kota perantauan, kota Malang.

Berikut saya tampilkan juga potret foto, HarJay Patas 255 dan AG ATB Ponorgo-Malang yang saya dapat saat hunting beserta tiket.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

About Saptanu

This isn't about The Destination, but it's all about The Glory of Going There.

Posted on 11 November 2012, in Blog Area. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Harusnya turun di terminal Jombang ya 16.40 lgsg oper bis Bagong 14 rb langsung menuju Terminal Landungsari, lewat Pujon-Batu yg biasanya ditempuh 3 jam (19.40 nyampe Malang)

    • Saran alternatif yang bagus mas.. Bisa menjadi pertimbangan untuk selanjutnya..
      Tapi saat itu juga ada teman yang janji bertemu di bungurasih, dari ponorogo dia juga jadi korban macet..

Monggo kemukakan saran, kritik dan pertanyaan jika ada.. [Dimohon disesuaikan dengan konten yang tercantum]

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s